Kamis 09 Dec 2021 23:35 WIB

Ekonomi Indonesia Pada 2022, Stabil atau Tumbuh?

Pertumbuhan ekonomi diharapkan semakin membaik dan berdampak positif untuk investasi.

BNI Asset Management menggelar Seminar Virtual Market Outlook 2022 bertajuk “Indonesia Towards 2022 Economic Recovery: Stability or Growth?”, Kamis (9/12).
Foto: Istimewa
BNI Asset Management menggelar Seminar Virtual Market Outlook 2022 bertajuk “Indonesia Towards 2022 Economic Recovery: Stability or Growth?”, Kamis (9/12).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai bentuk komitmen BNI Asset Management dan BNI Group dalam menyajikan informasi  dan proyeksi market dan ekonomi bagi masyarakat Indonesia khususnya nasabah BNI Asset Management dan BNI Group, BNI Asset Management menggelar Seminar Virtual Market Outlook 2022 bertajuk “Indonesia Towards 2022 Economic Recovery: Stability or Growth?”, pada Kamis (9/12).

Berdasarkan rilis yang diterima pada Kamis, kegiatan yang diinisiasi oleh BNI Asset Management ini merupakan acara tahunan yang bertujuan untuk memberikan proyeksi kondisi market sekaligus outlook perekonomian global dari perspektif ekonomi makro.

Turut hadir dalam acara ini Direksi Bank BNI, Direksi BNI Sekuritas, serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dr.Ir. Airlangga Hartarto, M.B.A., M.M.T yang menyampaikan pidato kunci mewakili Pemerintah Republik Indonesia dalam kegiatan Market Outlook tahun 2022 ini.

"Strategi Pemerintah Indonesia dalam rangka percepatan pemulihan Ekonomi pada tahun 2022 dengan menggarisbawahi bahwa pemerintah akan tetap menjaga fleksibilitas APBN dan melanjutkan Program PEN pada 2022 untuk mengantisipasi perluasan dampak pandemi di tahun depan," kata Airlangga.

Dari sisi kebijakan fiskal, Dirjen PPR Kementerian Keuangan Dr. Luky Alfirman, S.T.,M.A menyampaikan pemaparan secara virtual mewakili Menteri Keuangan Republik Indonesia. Dalam paparannya, Luky menegaskan pentingnya insentif fiskal bagi percepatan pemulihan perekonomian Indonesia.

"Pemerintah akan  menjaga konsistensi kebijakan fiskal di masa pandemi, yang mana krisis ini akan menjadi momentum untuk melanjutkan reformasi struktural dengan lima strategi prioritas, reformasi fiskal, dan reformasi sektor keuangan," kata Luky.

Perekonomian nasional diharapkan lebih maju dan sejahtera sesuai dengan visi Indonesia 2045. Dia juga menambahkan perihal strategi pertumbuhan ekonomi 2022-2025 yaitu living with pandemic, refromasi program perlindungan sosial, pembangunan infrastuktur, pemanfaatan dinamikan geopolitk, dan penguatan reformasi strutural.

Dari kacamata Ekonomi Global, di acara ini turut hadir Executive Director JP Morgan Singapore Mr. Sin Beng Ong yang memberikan tanggapan serta proyeksi terkait outlook market dan ekonomi makro di tahun 2022 mendatang.

Dia menyampaian pandangan terkait kondisi di Indonesia, dimana respon positif diberikan oleh analis asing kepada kolaborasi dari Pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK terkait kebijakan ekonomi yang disingkronisasi sehingga meminimalisir dampak ekonomi atas pandemi yang terjadi.

"Penanganan dampak di Indonesia dianggap lebih baik dibandingkan di negara berkembang lain seperti Brasil," kata Sin Beng Ong.

Chief Economist BNI Sekuritas, Damhuri Nasution menyampaikan Ekonomi dunia masih dalam fase ekspansi, tumbuh pesat di 2021 dan akan melambat di 2022 (namun tetap relatif tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan historikalnya).

Meskipun adanya ancaman inflasi global karena krisis energi dan gangguan suply chain, serta kebijakan moneter yang longgar dan fiskal yang ekspansif. "Indonesia juga bisa terhindar dari kenaikan inflasi seperti AS dan Eropa karena pertumbuhan supply dan demand masih cenderung seimbang vs imbalance di AS dan Eropa, stimulus kita relative kecil, serta pasokan energi masih mencukupi," kata Damhuri.

Sementara itu dari BNI Group sendiri menilai pada 2022 merupakan tahun penuh peluang bagi dunia ekonomi. Direktur Keuangan BNI, Novita Widya Anggraini memaparkan  BNI Group terus dituntut tumbuh di tengah pandemi.

"Pendirian BNI Sekuritas Singapura dan peluncuran Program Xpora untuk mendukung UMKM go global, adalah sebagai bentuk nyata BNI Group siap menjawab tantangan bisnis di 2022," kata Novita.

Khusus untuk sektor investasi, Presdir BNI Asset Management, Putut Endro Andanawarih menekankan dalam materinya bahwa pada 2022 kenaikan suku bunga tidak bisa dihindari, justru akan terjadi lebih cepat.

Oleh karenanya Investor dapat melakukan diversifikasi portfolionya kepada Instrument saham, pasar uang, dan pada obligasi jangka-menengah pendek. "BNI Asset Management juga tetap menerapkan strategi untuk bertahan dalam kondisi sekarang dengan senantiasa tetap bertindak pruden, menjaga etik, dan terus melakukan sinergi dengan BNI Group dalam mengelola dana nasabah," kata Putut.

Sebagai penutup acara, Direktur Bisnis BNI Asset Management, Donny Susatio Adjie menyampaikan Market Outlook ini diselenggarakan dengan tujuan utama untuk melihat proyeksi perekonomian global dan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 dari sisi makro ekonomi. Hal ini tentunya dapat menjadi suatu rekomendasi investasi yang komprehensif bagi para nasabah.

"Dengan adanya view positif yang telah disampaikan oleh para narasumber, kita berharap bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin membaik di tahun 2022 dan tentunya akan berdampak positif bagi industri pasar modal dan iklim investasi di Indonesia," kata Donny.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement