Jumat 20 Aug 2021 16:49 WIB

Krakatau International Port Layak Jadi Pusat Logistik

KIP merupakan pelabuhan curah makanan dan padi-padian terbesar di Asia Tenggara

Rep: m nursyamsi/ Red: Hiru Muhammad
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menilai Krakatau International Port (KIP) di Cilegon, Banten, layak menjadi salah satu simpul atau pusat logistik perikanan di Indonesia. Sebab lokasi, kapasitas dan fasilitas yang ada di pelabuhan tersebut sangat mendukung.
Foto: istimewa
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menilai Krakatau International Port (KIP) di Cilegon, Banten, layak menjadi salah satu simpul atau pusat logistik perikanan di Indonesia. Sebab lokasi, kapasitas dan fasilitas yang ada di pelabuhan tersebut sangat mendukung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menilai Krakatau International Port (KIP) di Cilegon, Banten, layak menjadi salah satu simpul atau pusat logistik perikanan di Indonesia. Sebab lokasi, kapasitas dan fasilitas yang ada di pelabuhan tersebut sangat mendukung.

Hal ini disampaikan Trenggono saat meninjau KIP bersama sejumlah pejabat Eselon I  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Kamis (19/8). 

Rombongan Trenggono disambut Direktur Utama PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) Akbar Djohan. KBS yang merupakan anak perusahaan BUMN Krakatau Steel yang mengelola KIP. "(Bagus) untuk (mendukung produktivitas) perikanan tangkap ini. Harus kita maksimalkan," ujar Trenggono.

Direktur Utama Krakatau Bandar Samudera Akbar Djohan mengatakan Krakatau International Port merupakan pelabuhan curah makanan dan padi-padian terbesar di kawasan Asia Tenggara serta dry port kontainer produk manufaktur, kemasan, makanan olahan dengan sistem yang sudah terintegrasi dari layanan upstream hingga downstream sehingga mampu menampung dan memfasilitasi ekosistem pendaratan logistik, hingga penyimpanan dan kegiatan distribusi.

Akbar menyampaikan pelabuhan dengan panjang 3,5 km tersebut memiliki 17 dermaga yang juga dilengkapi conveyor, gantry grab ship unloader, hingga gudang terintegrasi. 

"KBS memplot Dermaga 4 menjadi kawasan pelayanan cold storage yang salah satunya untuk menyimpan ikan hasil tangkapan maupun budidaya dalam kawasan pusat logistik berikat untuk distribusi dalam negeri maupun kegiatan ekspor dan ekspor," ucap Akbar.

Kata Akbar, pemilihan Dermaga 4 sebab lokasinya strategis, memiliki jalur kereta api, dekat dengan jalan tol, pusat logistik berikat dan depo serta dryport. Kedalaman perairan Dermaga 4 juga memadai untuk berlabuhnya kapal ukuran besar, yakni mencapai 8 meter. "Harapannya bisa menjadi simpul logistik produk curah dan olahannya untuk kebutuhan di Pulau Jawa," ungkap Akbar Djohan.

Akbar menambahkan pengembangan sistem rantai dingin di KIP lantaran teknik pengawetan produk perikanan akan menjadi lebih baik dan dapat meningkatkan daya saing transportasi. Sedangkan dari sisi manfaat, sistem rantai dingin akan berkontribusi pada peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) bagi negara, peningkatan volume perikanan tangkap dan budidaya dalam negeri, serta mendorong peningkatan kesejahteraan nelayan lantaran hasil produksinya terserap lebih stabil.

"Di samping itu, jangkauan kargo yang dibawa menjadi lebih luas sebab KIP berada di jalur pelayaran Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) 1 dan penghubung jalur pelayaran Selat Malaka serta lintas tol laut yang selama ini ramai dilintasi kapal-kapal kargo dari dalam maupun luar negeri," lanjut Akbar.

KIP, ucap Akbar, juga aktif mencari mitra bisnis termasuk dengan skema  KPBU untuk pengembangan bisnis transhipment, perawatan kapal (MRO), unit pengolahan ikan bahkan sampai bursa ikan. 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement