Senin 07 Jun 2021 06:08 WIB

Merger BUMN demi Genjot Pasar Ekspor Perikanan

Indonesia termasuk dalam jajaran negara pengekspor produk perikanan terbesar di dunia

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Nidia Zuraya
Ilustrasi Merger Perusahaan
Foto: Pixabay
Ilustrasi Merger Perusahaan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI Arief Prasetyo Adi mengatakan salah satu rencana penggabungan Perikanan Indonesia (Perindo) dan Perikanan Nusantara (Perinus) akan mendukung pemerintah terhadap sektor perikanan. Khususnya, kata dia, dalam meningkatkan ekspor produk perikanan Indonesia ke pasar internasional serta memberikan manfaat kepada ekosistem nelayan dan UMKM dengan meningkatkan hasil offtake nelayan, nilai tukar nelayan, menjaga ketersediaan dan aksesibilitas produk perikanan, meningkatkan kualitas mutu produk hingga pemberdayaan UMKM. 

Sebagai koordinator BUMN Klaster Pangan, ucap Arief, berdasarkan hasil kajian merger beberapa BUMN yang tergabung dalam Klaster pangan, penggabungan beralasan untuk mewujudkan potensi sinergi peningkatan penjualan, termasuk sektor perikanan, pada masa pra penggabungan ini dua BUMN perikanan Perindo dan Perinus kian genjot segmentasi ekspor produk perikanan. Arief menyebut terdapat potensi peningkatan ekspor pada sektor perikanan di BUMN perikanan. 

Baca Juga

"Pekan ini Perinus lakukan ekspor gurita ke Jepang setelah pekan sebelumnya Perindo lakukan Ekspor ikan kembung memenuhi pesanan dari Thailand," ujar Arief dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (7/6).

Arief menyebut ekspor Perinus yang berlangsung 4 Juni 2021 ini berupa gurita beku sebanyak 12.192,4 kg dengan total transaksi senilai 71.679,52 dolar AS atau setara dengan Rp 1.03 miliar. Arief menyampaikan hasil tangkapan yang diekspor dari mitra-mitra nelayan Perinus cabang Makassar. 

Arief melanjutkan, pada semester pertama 2021 ini, Perinus telah berupaya berkontribusi mengoptimalkan model bisnis perseroan melalui realisasi tiga kali kegiatan ekspor perikanan dalam rangka memenuhi permintaan buyer di Jepang, di antaranya pada Februari, April dan Juni 2021. Sementara itu, sambung Arief, Perindo juga kerap optimalkan ekspor perikanan, meski kondisi pandemi pun data penjualan ekspor Perindo tercatat  aktif memenuhi permintaan bahan baku ikan untuk pasar ekspor sejak Januari 2021.

Arief menilai kegiatan ekspor perikanan ini merupakan upaya-upaya perbaikan model bisnis sebagai langkah awal menuju penggabungan BUMN Perikanan. 

"Ke depan memang salah satu rencana model bisnis BUMN Perikanan yang akan di merger adalah dengan mengoptimalkan offtake produk nelayan sekaligus meningkatkan Pasar Ekspor, oleh karenanya sambil paralel proses penggabungannya, kinerja Operasional tetap dimaksimalkan," ungkap Arief.

Sebelumnya, Perindo telah merealisasikan ekspor ikan ke Thailand untuk sesi pertama sebanyak volume 25 ribu kg dan akan dilanjutkan tiga sesi ekspor berikutnya sebanyak 50 ribu kg, 25.000kg hingga memenuhi permintaan sebanyak 150 ribu kg ke Thailand dengan estimasi total valuasi transaksi ekspor pada empat sesi tersebut sebesar 328.560 dolar AS atau setara Rp 4,59 miliar.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Indonesia termasuk dalam jajaran negara pengekspor produk perikanan terbesar di dunia, dengan total ekspor produk perikanan pada 2020 mencapai 5,2 miliar dolar AS.  Adapun, sebanyak 4,84 miliar dolar AS di antaranya berasal dari ikan konsumsi.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan industri perikanan khususnya yang berorienstasi ekspor, berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Apalagi di masa pandemi Covid-19, ekspor perikanan justru menunjukkan tren positif.

"Sektor perikanan ini tidak hanya menghasilkan devisa bagi negara, tapi juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil perikanan. Di samping itu sektor ini menyerap banyak tenaga kerja," ujar Trenggono.

Selain itu, Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan upaya BUMN untuk meningkatkan kerja sama dalam upaya perbaikan rantai pasok termasuk rencana pembangunan strategis di wilayah Timur Indonesia. Kerja sama juga dengan memperhatikan kepentingan nasional yang strategis. Proyek akan melibatkan BUMN yang akan menjadi motor pembangunan di sejumlah wilayah di Nusantara.

"Tak hanya di pulau Jawa, melainkan pula pembangunan strategis di wilayah Timur Indonesia. Sebagai misi untuk mempertegas kedaulatan maritim dan perikanan, Indonesia akan membangun pelabuhan perikanan di Ambon sebagai bagian untuk menyukseskan program lumbung ikan nasional," ucap Erick.

Erick mengatakan BUMN Perikanan siap mendukung program Lumbung Ikan Nasional yang dicanangkan pemerintah, salah satunya peran BUMN Perikanan nanti di wilayah Ambon, Bacan, Bitung, Gorontalo, Sorong dan sekitarnya, berkoordinasi dengan KKP dan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement