Kamis 03 Jun 2021 14:54 WIB

Erick Thohir Ungkap Beban Terbesar Garuda Selama Ini

Erick menyoroti kebijakan yang kerap berubah dan tak menguntungkan Garuda Indonesia.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Nidia Zuraya
Menteri BUMN Erick Thohir.
Foto: ANTARA/Dhemas Reviyanto
Menteri BUMN Erick Thohir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, beban terbesar PT Garuda Indonesia (Persero) selama ini terletak pada perusahaan penyewa pesawat atau lessor. Erick menyebut, Garuda memiliki kontrak penyewaan pesawat dengan 36 lessor.

"Kami meyakini salah satu masalah terbesar di Garuda itu mengenai lessor, ada 36 lessor yang harus dipetakan ulang," ujar Erick saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR di gedung DPR, Jakarta, Kamis (3/6).

Baca Juga

Manajemen Garuda, kata Erick, harus melakukan negosiasi keras dengan lessor yang bekerja sama dalam sejumlah kasus koruptif sebelumnya. Sementara untuk lessor yang tidak terkait dengan kasus, Erick mendorong manajemen untuk mengajukan negosiasi ulang. 

Beban kedua terbesar Garuda, kata Erick, ialah model bisnis. Erick meminta Garuda berani mengubah model bisnis pascapandemi dengan fokus menggarap pasar penerbangan domestik.

Toh, kata Erick, selama ini 78 persen penumpang Garuda disumbang oleh pasar domestik, sementara 22 persen sisanya baru diisi penumpang penerbangan internasional.

"Kita negara kepulauan yang mestinya lebih baik domestik untuk (penerbangan) luar negeri cost sharing saja karena banyak negara harus ekspansi (penerbangan internasional) karena negara cuma satu pulau, kita tidak perlu seperti itu," ucap Erick.

Erick juga menyoroti kebijakan yang kerap berubah dan tidak menguntungkan Garuda Indonesia. Oleh karena itu, Erick telah berbicara dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi terkait optimalisasi bandara dan rute penerbangan dalam negeri di Indonesia. 

"Kita sudah banyak bicara dengan Menhub dan beliau mendukung bagaimana nanti bandara-bandara di Indonesia ya memang tidak semuanya bisa open sky untuk pesawat asing," ungkap Erick. 

Terlebih, kata Erick, di tengah kondisi pandemi saat ini yang sangat rawan apabila semua bandara dibuka untuk penerbangan internasional. Erick mencontohkan Amerika Serikat dan China yang hanya membuka beberapa bandara untuk penerbangan internasional, sementara untuk rute-rute domestik diharuskan menggunakan maskapai dalam negeri.

"Nanti dari bandara titik yang dibuka itu bisa menyebar ke banyak kota, tapi untuk dalam doemstik hanya Garuda atau penerbangan swasta (yang diperbolehkan)," kata Erick menambahkan. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement