REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ekspansi industri makanan dan minuman (food and beverage/F&B) mendorong meningkatnya kebutuhan bahan baku yang stabil dan konsisten. Pertumbuhan kedai kopi, gerai minuman kekinian, serta sistem penjualan daring membuat efisiensi rantai pasok menjadi faktor kunci bagi pelaku usaha kuliner.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan industri makanan dan minuman secara konsisten menjadi salah satu subsektor manufaktur dengan kontribusi pertumbuhan terbesar terhadap Produk Domestik Bruto nasional. Pada periode pemulihan ekonomi, sektor ini tumbuh rata-rata sekitar 4 hingga 5 persen, ditopang perubahan gaya hidup urban dan meningkatnya konsumsi produk siap saji.
Pertumbuhan tersebut berimplikasi langsung pada kebutuhan bahan baku, terutama pemanis alami yang menjadi komponen utama berbagai produk minuman modern. Ketidakstabilan rasa maupun ketersediaan komoditas dinilai dapat memengaruhi efisiensi operasional dan margin usaha, terutama bagi pelaku UMKM yang bergerak cepat mengikuti tren pasar.
Merespons kebutuhan tersebut, CV Jagoan Food melalui jenama Palmarie mengembangkan sistem suplai bahan baku berbasis kebutuhan bisnis ke bisnis (B2B) dan UMKM. Perusahaan yang beroperasi sejak 2019 ini memfokuskan distribusi gula berbasis nira dengan standar konsistensi rasa yang disesuaikan dengan kebutuhan industri komersial.
Perusahaan melakukan pemetaan kebutuhan berdasarkan jenis usaha kuliner. Untuk segmen minuman seperti boba dan milk tea, disediakan varian brown sugar premium yang diarahkan menghasilkan karakter karamelisasi stabil. Sementara tren kopi berbasis espresso dan latte direspons melalui penyediaan gula aren cair dengan profil aroma autentik.
Direktur CV Jagoan Food Arie Adrian menjelaskan, tingginya dinamika industri F&B membuat pengelolaan logistik dan pengendalian mutu bahan baku menjadi faktor penentu keberlanjutan bisnis. “Dinamika pasar F&B saat ini menuntut kecepatan sekaligus konsistensi pasokan agar pelaku usaha dapat menjaga kualitas produk dan efisiensi operasional,” kata Arie dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, stabilitas rantai pasok bukan lagi sekadar persoalan distribusi, tetapi juga kemampuan menyesuaikan karakter bahan baku dengan kebutuhan pasar yang terus berubah.
“Oleh karena itu, strategi operasional kami berpusat pada optimalisasi kapasitas produksi yang terukur dan penerapan standar kelayakan higienis yang ketat. Hal ini bertujuan agar pelaku usaha F&B tidak perlu lagi menghadapi fluktuasi kualitas pemanis alami yang berisiko mengubah identitas rasa,” katanya.
Di tengah pertumbuhan sektor F&B yang masih berlanjut, kesiapan penyedia bahan baku dalam menjaga kualitas, kontinuitas suplai, serta efisiensi distribusi diperkirakan akan semakin menentukan daya saing pelaku usaha kuliner dalam jangka panjang.