Selasa 30 Mar 2021 14:46 WIB

Pandemi, Modalku Fokus Penyaluran Kredit ke Penjual Online

Tren pinjaman usaha mengalami peningkatan selama pandemi.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolandha
Fintech Modalku akan lebih menyasar penyaluran ke sektor usaha e-commerce di tahun ini, untuk memitigasi risiko kredit macet dan ekspansi bisnis.
Foto: Tim Infografis Republika.co.id
Fintech Modalku akan lebih menyasar penyaluran ke sektor usaha e-commerce di tahun ini, untuk memitigasi risiko kredit macet dan ekspansi bisnis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fintech Modalku akan lebih menyasar penyaluran ke sektor usaha e-commerce di tahun ini, untuk memitigasi risiko kredit macet dan ekspansi bisnis. COO Modalku Iwan Kurniawan mengungkapkan, industri kesehatan menjadi salah satu sektor usaha yang berkembang, bahkan dalam penjualan online.

"Strategi modalku untuk mencapai target, kami fokus ke industri yang berkembang seperti online seller, dan industri kesehatan," ujar Iwan dalam konferensi pers virtual, Selasa (30/3).

Penetrasi digital menjadi potensi Modalku untuk berekspansi, apalagi dengan dengan banyaknya peminjam berasal dari partner e-commerce dan supply chain. "Kami juga akan lebih fokus ke partnership dengan partner online dan supply chain," tambahnya.

Menurut Iwan, tren pinjaman usaha mengalami peningkatan selama pandemi. Pada awal-awal pandemi, yakni Maret 2020, pengajuan pinjaman usaha mengalami peningkatan hingga dua kali lipat. Namun, hanya usaha yang stabil dengan arus kas lancar yang bisa mendapatkan kredit.

 

Dalam waktu lima tahun hingga 2021, Modalku telah menyalurkan pinjaman usaha sebesar Rp 22,4 triliun kepada lebih dari 4 juta transaksi pinjaman UMKM. Sedangkan sepanjang Januari 2021, Grup Modalku juga telah menyalurkan pinjaman sekitar Rp 500 Miliar untuk UMKM di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Jumlah tersebut diharapkan meningkat menjadi Rp 30 triliun pada akhir tahun 2021.

Selain memperluas jangkauan ke online seller, Modalku juga berupaya menjaga kualitas kredit dengan memitigasi risiko kredit macet dan mengedukasi para pemberi pinjaman (lender).

Upaya mitigasi risiko yang dilakukan yakni dengan memastikan usaha yang diberi pinjaman sesuai dengan persyaratan. Tenor yang pendek yang hanya 2-3 bulan juga umumnya mencegah terjadinya kredit macet.

"NPL tahun lalu mirip 2019, bisa seperti itu karena yang lebih banyak kena masalah sektor mikro, tapi nilai pinjaman lebih kecil. Usaha kecil dan menengah lebih stabil karena sektor industrinya mengarah ke yang lebih oke seperti online seller dan kesehatan," papar Iwan.

VP dan Head of Marketing Communications Modalku, Ariani Hadioetomo menambahkan bahwa pihaknya juga terus memberikan edukasi kepada para pemberi pinjaman (lender), agar memilih sektor usaha yang akan diinvestasi sesuai dengan profil risiko.

"Ada risk-based pricing, bunga tinggi pasti risikonya tinggi. Kita juga jadi mitra SBN, dimana risikonya hampir tidak ada dalam kehilangan return, jadi bervariasi untuk pemberi dana." jelas Ariani.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement