Senin 22 Feb 2021 12:52 WIB

BI: Masih Banyak Ruang untuk Kredit Properti dan Otomotif

Kemampuan bank menyalurkan kredit ke dua sektor tersebut masih tinggi.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolandha
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan rumah bersubsidi di Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/2).  Bank Indonesia (BI) menyebut masih ada ruang untuk meningkatkan kredit properti dan otomotif dengan adanya kebijakan pelonggaran uang muka kredit.
Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan rumah bersubsidi di Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/2). Bank Indonesia (BI) menyebut masih ada ruang untuk meningkatkan kredit properti dan otomotif dengan adanya kebijakan pelonggaran uang muka kredit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menyebut masih ada ruang untuk meningkatkan kredit properti dan otomotif dengan adanya kebijakan pelonggaran uang muka kredit. Hal ini terlihat dari sisi tingginya likuiditas di masyarakat dan perbankan.

Asisten Gubernur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Juda Agung menyampaikan konsumsi rumah tangga yang menurun membuat simpanan di perbankan tinggi. Khususnya pada kelompok tabungan Rp 100 juta hingga Rp 2 miliar dan diatas Rp 2 miliar.

"Tabungan perseorangan yang tabungannya di atas Rp 2 miliar dan Rp 100 juta sampai Rp 2 miliar itu naik masing-masing 21,27 persen dan 12,27 persen," katanya dalam Media Briefing BI, Senin (22/2).

Juda mengatakan tingkat konsumsi rumah tangga yang mencapai 60 persen dari PDB memang belum pulih menurut data kuartal IV 2020. Sebagian besar porsi pengeluarannya masih digunakan untuk makanan sebesar 65,7 persen dan keperluan rumah tangga sebesar 15 persen.

Tingkat konsumsi yang mayoritas untuk primer ini akhirnya meningkatkan minat rumah tangga pada investasi. Misal penjualan emas yang mengalami peningkatan pada kuartal III 2020 yang naik hingga 147,23 persen mencapai 6.967 kilogram.

Investasi di pasar modal juga semakin digandrungi karena penempatan di deposito atau tabungan perbankan hanya memberikan return sekitar 2-3 persen. Jumlah investor retail di pasar modal naik 55,85 persen pada Desember 2020 (yoy).

"Masyarakat ini mencari penempatan instrumen yang bisa memberikan return lebih tinggi," katanya.

Juda juga menyebut minat masyarakat untuk berinvestasi di properti cukup meningkat jadi 21 persen pada 2021, dibanding 18 persen pada 2020. Preferensi masyarakat untuk beli rumah di masa pandemi cukup tinggi hampir 60 persen.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement