Selasa 28 Jul 2020 04:15 WIB

Dosen IPB Jadi Pembimbing Penelitian Sawfish Project

Kemampuan peneliti di Indonesia tidak kalah secara global.

Suasana diskusi bersama Sawfish Project Indonesia (SPI).
Foto: Dok IPB University
Suasana diskusi bersama Sawfish Project Indonesia (SPI).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Kemampuan peneliti di Indonesia tidak kalah secara global. Kita mampu dan kita bisa. Harapan yang besar menunggu untuk kontribusi penelitian mengenai karakteristik habitat sawfish yang dapat menjadi supporting data base terhadap konservasi di Indonesia.

Hal ini disampaikan Dr Mukhlis Kamal, dosen IPB University dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), dalam diskusi bersama Sawfish Project Indonesia (SPI). Dr Mukhlis memiliki keahlian di bidang habitat ikan khususnya pada kawasan estuari. Berkat keahliannya ini,  Dr Mukhlis diminta menjadi pembimbing penelitian SPI ke depan.

Dalam diskusi ini terungkap bahwa sebagai salah satu ikan yang memiliki karakter yang berkaitan dengan kesesuaian kondisi lingkungan, Indonesia memiliki beberapa lokasi kemunculan sawfish (ikan pari gergaji), khususnya di perairan Merauke.

Hal ini sesuai dengan peta sebaran yang dipublikasikan oleh Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong Satker Merauke pada tahun 2019. Berdasarkan laporan tersebut,  empat sungai dengan intensitas kemunculan terbanyak di Merauke berada di Sungai Torasi, Sungai Maro, Sungai Kumbe, dan Sungai Bian. Data inilah yang kemudian menjadikan Marauke sebagai target wilayah kerja SPI terkait konservasi sawfish.

“Memiliki karakter sebagai ikan yang bermuara  dari laut menuju sungai ataupun sebaliknya, menjadikan faktor lingkungan menjadi hal yang perlu untuk diteliti lebih jauh. Faktor lingkungan tersebut dapat berupa faktor perairan oseanografi fisik dan kimia. Parameter yang diteliti terdiri dari suhu, salinitas, oksigen terlarut, arus, pasang surut, curah hujan dan angina. Melalui parameter yang diukur, dapat menjadi acuan untuk mengetahui parameter yang paling memengaruhi keberadaan sawfish di empat lokasi sungai,” ujarnya dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Sebagai salah satu pembimbing penelitian SPI, Dr Mukhis Kamal tidak hanya memberikan saran dan masukan terkait penelitian sains, tetapi juga mengenai pendekatan sosial serta pentingnya kolaborasi berbagai pihak terutama universitas lokal. Kerja sama SPI dengan lembaga pendidikan seperti universitas dapat menjadi kesempatan dalam rangka peningkatan kapasitas keilmuan bersama di bidang penelitian.

Dari diskusi ini tim SPI mendapatkan banyak pemahaman baru terkait urgensi pengambilan data arus di estuari dalam meneliti ikan demersal seperti sawfish dengan memperhatikan titik pengambilan sampel. Pengambilan sampel terkait perbedaan salinitias di beberapa titik perairan seperti di area sungai, estuari dan lautan juga diharapkan dapat menjawab karakter sawfish. Apakah termasuk ke dalam ikan euryhaline (mampu bertahan pada kisaran salinitas lebih tinggi) atau stenohaline (mampu bertahan pada kisaran salinitas lebih rendah).

Luaran jangan panjang yang diharapkan dari kondisi habitat dan pola distribusi pari gergaji di perairan estuari dapat menjadi referensi dalam penentuan kawasan perlindungan di Kabupaten Merauke.

Berita Lainnya

Rekomendasi