Kamis 25 Jun 2020 04:50 WIB

Mendag: Indonesia Penghasil Merek Kompetitif

Kekuatan merek lokal ini mampu menopang perekonomian nasional di tengah pandemi.

 Pengunjung melihat produk yang dipamerkan dalam Trade Expo Indonesia (TEI). Indonesia penghasil sejumlah merek yang kompetitif di pasar global.   (Republika/ Yasin Habibi)
Pengunjung melihat produk yang dipamerkan dalam Trade Expo Indonesia (TEI). Indonesia penghasil sejumlah merek yang kompetitif di pasar global. (Republika/ Yasin Habibi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto menyebut bahwa Indonesia merupakan negara penghasil merek yang memiliki kekuatan dan kompetitif di pasar global. Kekuatan merek lokal ini mampu menopang perekonomian nasional di tengah pandemi Covid-19 yang sedang melanda.

"Indonesia merupakan negara penghasil merek yang memiliki market power (kekuatan pasar) dan mampu bersaing secara global, baik di sektor industri besar maupun kecil. Mereka bersinergi untuk menopang perekonomian Indonesia," ujar Mendag saat menghadiri web seminar bertajuk 'Kenali Local Brand yang Menguasai Pasar Global', Rabu (24/6).

Baca Juga

Beberapa produk yang disebut di antaranya Mayora yang telah mampu mengekspor ke 100 negara di dunia, kemudian Indofiid yang menjangkau 80 negara, lalu PT Gajah Tunggal yang mendistribusikan produknya ke 80 negara, dan APRIL yang memiliki kantor penjualan penghubung pemasaran di berbagai negara.

Kendati demikian, Mendag menyampaikan bahwa pelaku usaha harus mutlak memiliki ide dan kreativitas serta memanfaatkan peluang agar mampu bersaing dengan negara lain.

"Pandemi ini dapat dijadikan momentum bagi para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dan pelaku industri besar sebagai peluang untuk bersaing dengan negara lain," ungkap Mendag.

Mendag Agus memaparkan, pandemi Covid-19 berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan perdagangan global dan nasional, di antaranya yakni terjadinya gangguan dari sisi permintaan dan pasokan, terjadi pelarangan ekspor dan impor beberapa komoditi pangan dan kesehatan, perubahan pusat rantai pasok global dari China, Amerika Serikat, dan Jerman.

Kemudian, terjadi peningkatan biaya logistik, di mana waktu pengiriman barang barang lebih lama, biaya logistik bertambah, serta prosedur pengiriman mengikuti protokol kesehatan.

"Kerja sama perdagangan juga tidak berjalan efektif selama pandemi Covid-19. Terakhir, muncul ancaman resesi global," tukas Mendag.

Untuk itu, Mendag tetap mendorong agar konsumsi domestik tetap terjaga dan memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri.

Adapun perubahan perilaku ke pemasaran daring, di mana produk impor sudah lebih dahulu melakukan penetrasi pasar daring dengan membidik anak muda dan masyarakat umum, dengan menumbuhkan kerelaan konsumen terhadap pembelian produk lokal yang sudah berkualitas global.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement