Selasa 16 Jun 2020 06:07 WIB

Diadang Bea Masuk, Ekspor Biodiesel ke Eropa Turun 99 Persen

Pemerintah optimistis komoditas minyak sawit asal Indonesia tetap menjadi primadona.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha
Mahasiswa Institut Teknologi Bandung dibantu petugas laboratorium menyelesaikan produksi bahan bakar nabati dari minyak sawit di Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis, Institut Teknologi Bandung (ITB), Kota Bandung, Selasa (30/4).
Foto: Abdan Syakura
Mahasiswa Institut Teknologi Bandung dibantu petugas laboratorium menyelesaikan produksi bahan bakar nabati dari minyak sawit di Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis, Institut Teknologi Bandung (ITB), Kota Bandung, Selasa (30/4).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebijakan Bea Masuk Anti Subsidi atau countervailing duties (CVD) oleh Uni Eropa terhadap produk biodiesel Indonesia mulai memberikan dampak buruk. Ekspor biodiesel sepanjang kuartal I 2020 turun 99 persen terhadap periode yang sama tahun 2019.

Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga, mengatakan, produk biodiesel Indonesia ke Uni Eropa dikenakan bea masuk anti subsidi sebesar 8 - 18 persen yang berlaku mulai 2019 lalu. Pada kuartal I 2019, tercatat ekspor biodiesel ke Uni Eropa masih bisa mencapai 155,1 ribu ton. Namun sepanjang kuartal I 2020 ekspor tercatat nol.

"Sejak pengenaan CVD, ekspor biodiesel ke Uni Eropa menurun drastis," kata Jerry dalam sebuah diskusi virtual, Senin (15/6).

Ia mengatakan, pemerintah telah menempuh langkah pembelaan melalui forum hearing dan penyamapian subsmisi dengan Uni Eropa. Pemerintah Indonesia juga telah menempuh langkah di World Trade Organization untuk menggugat kebijakan Uni Eropa yang secara nyata mendiskriminasi produk sawit Indonesia.

Menurut dia, tuduhan-tuduhan Uni Eropa selama ini kepada Indonesia tidak beralasan. Khususnya yang berkaitan dengan deforestasi lingkungan akibat budidaya perkebunan sawit. Jerry mengatakan, setelah ditelusuri, sikap Uni Eropa justru cenderung ingin memproteksi produk-produk minyak nabatinya agar tidak tergerus oleh produk Indonesia.

"Selama ini Uni Eropa selalu menggembar-gemborkan perdagangan bebas. Ini jadi kontradiktif kami sangat menyayangkan sikap ini," katanya.

Kendati demikian, Jerry optimistis komoditas minyak sawit asal Indonesia tetap akan menjadi primadona dunia untuk minyak nabati. Sebab, dibandingkan dengan minyak lainnya, sawit sangat kompetitif termasuk dari segi harga.

Sepanjang Januari-April 2020, nilai ekspor minyak sawit telah mencapai 6,3 miliar dolar AS. Angka itu, naik dari periode Januari-April 2019 sebesar 5,9 miliar dolar AS. Dari nilai ekspor itu, kontribusi sawit terhadap ekspor non migas pun meningkat, dari 11,9 persen pada Januari-April 2019 menjadi 12,4 persen pada periode yang sama tahun ini.

"Kita harus optimistis terhadap prospek sawit ke depan karena palm oil pilihan paling ekonomi di dunia. Masih yang terbaik dan memiliki pengaruh signifikan terhadap ekonomi nasional," kata Jerry.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement