Kamis 16 Apr 2020 17:29 WIB

Paket Isolasi Mandiri di Hotel Minim Peminat

Minim peminat, paket isolasi mandiri di hotel belum mampu dongkrak okupansi.

Tamu hotel memanfaatkan paket isolasi mandiri di Hotel Grand Whiz Lebak Bulus, Jakarta, Kamis (16/4/2020). Minim peminat, paket isolasi mandiri di hotel belum mampu dongkrak okupansi.
Foto: ANTARA/Muhammad Iqbal
Tamu hotel memanfaatkan paket isolasi mandiri di Hotel Grand Whiz Lebak Bulus, Jakarta, Kamis (16/4/2020). Minim peminat, paket isolasi mandiri di hotel belum mampu dongkrak okupansi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Paket isolasi mandiri yang ditawarkan sejumlah hotel di tengah wabah virus corona jenis baru penyebab Covid-19 disebut masih belum mampu mendongkrak okupansi hotel. Padahal, itu menjadi salah satu strategi untuk bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19.

"Demand-nya, memang relatif kecil. Ada yang menerima tenaga medis dan isolasi mandiri, tapi jumlahnya kalau dibandingkan kondisi normal, ya jauh. Tapi paling tidak kalau memungkinkan, tetap kita upayakan berjalan," kata Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani dalam seminar virtual bertajuk Strategi Pengelola Industri Perhotelan Menghadapi Covid-19 dan Krisis di Jakarta, Kamis.

Baca Juga

Menurut Hariyadi, karena permintaannya rendah, sudah pasti strategi tersebut tidak menguntungkan. Namun, jika bisa menutup biaya operasional, maka pihak hotel akan mengupayakan promo tersebut bisa berjalan.

"Misal di Jakarta, ada hotel punya pemda, memang penuh karena diisi tenaga medisnya, tapi kan tidak semua (hotel) bisa menikmati kondisi itu," kata Haryadi.

Di sisi lain, Hariyadi mengatakan, hotel juga kehilangan potensi pendapatan dari pasar pemerintah dan korporasi yang biasanya menggelar kegiatan di hotel. Oleh karena itu, sektor perhotelan dinilai menjadi sektor yang paling terdampak akibat Covid-19.

Konsumen ritel yang non-pemerintah dan korporasi pun tidak bisa diharapkan karena kondisi masyarakat yang juga kesulitan.

"Bahkan kami sekarang tidak bisa menyebut besaran okupansi karena okupansi itu dihitung kalau di atas 10 persen. Sekarang kondisinya sudah di bawah 10 persen," ujar Haryadi yang juga ketua umum Apindo.

Lebih lanjut, Hariyadi mengungkapkan, sempat ada diskusi dengan pemerintah daerah mengenai penggunaan hotel untuk tempat isolasi pemudik yang nekat kembali ke kampung halamannya. Menurut dia, hal itu pun besar kemungkinan bisa dilakukan karena pemerintah daerah tidak mungkin menolak warga yang memaksa kembali ke kampung halaman mereka

"Tapi kami dari sektor riil, kami berharap mudik tidak terjadi karena akan jauh lebih sulit jika penanganan kesehatan tidak berjalan, lalu menyebar. Itu kan tidak mudah. Tapi, itu mungkin akan dijalankan. Ada kemungkinan ke sana (digunakan pemda untuk isolasi pemudik)," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement