Kamis 27 Feb 2020 16:26 WIB

Proyek Pal untuk Elektrifikasi Indonesia Timur Dimulai

Proyek pembangunan Dual Fuel BMPP memasuki tahapan first steel cutting.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Gita Amanda
PLN terus meningkatkan elektrifikasi.
Foto: PLN
PLN terus meningkatkan elektrifikasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Proyek pembangunan Dual Fuel Barge Mounted Power Plant (BMPP) memasuki tahapan first steel cutting di Bengkel Khusus Lambung, Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia (Persero), Rabu (26/2). Seremoni tersebut dihadiri oleh Direktur Utama PAL Indonesia Budiman Saleh, Direktur Rekayasa Umum dan Pemeliharaan Perbaikan PAL Sutrisno, dan Direktur Pengembangan dan Niaga PT Indonesia Power Adi Supriono.

Direktur Rekayasa Umum dan Pemeliharaan Perbaikan PT PAL Indonesia Sutrisno mengatakan proyek dual fuel BMPP merupakan pesanan dari PT Indonesia Power, dengan kontrak pengadaan Nomor 328.PC/061/IP/2019 yang telah ditandatangani pada 30 September 2019 dan efektif pada 23 Oktober 2019.

Baca Juga

"Proyek BMPP tersebut memiliki kapasitas total 150 MW yang terdiri dari dua unit Dual Fuel BMPP 60 MW yang akan ditempatkan di Kolaka, Sulawesi Tenggara, dan satu unit Dual Fuel BMPP 30 MW yang akan ditempatkan di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)," ujar Sutrisno dalam siaran pers yang diterima Republika di Jakarta, Kamis (27/2).

Sutrisno menyatakan proyek ini direncanakan akan selesai yang ditandai dengan commissioning on site pada Januari 2021. Proyek tersebut merupakan bagian dari program elektrifikasi nasional 35 ribu MW yang menjadi salah satu program kerja Presiden Joko Widodo.

Sutrisno menjelaskan first steel cutting merupakan tradisi setiap pembangunan kapal atau alat terapung lainnya sebagai tanda dimulainya fabrikasi atau pembangunan yang ditandai dengan pemotongan plat pertama.

"Seremoni yang menandai dibangunnya konstruksi Barge sebagai platform dari Dual Fuel BMPP nantinya," ucap Sutrisno.

Sutrisno menambahkan, BMPP pesanan PT Indonesia Power ini merupakan pembangkit listrik mobile dengan Dual Fuel Engine yang diintegrasikan dengan konstruksi Barge. Dual Fuel BMPP ini didesain memenuhi persyaratan kekuatan struktur terhadap fatigue, stabilitas barge yang baik pada kondisi ditarik maupun ditambat dan kemampuan tambat yang baik sehingga dapat dioperasikan sesuai dengan performance yang direncanakan dan aman, pembangunan Dual Fuel BMPP ini tergolong dalam pekerjaan spesifik.

Sutrisno memaparkan dual fuel BMPP 60MW memiliki panjang 72 meter, lebar 27,4 meter, tinggi 6,5 meter dan sarat setinggi 4,7 meter serta ditunjang dengan 6 x Dual Fuel Engine 20V34DF. Sementara Dual Fuel BMPP 30 MW memiliki memiliki panjang 54 meter, lebar 27,4 meter, tinggi 6,5 meter dan sarat setinggi 4,7 meter serta ditunjang dengan 3 x Dual Fuel Engine 20V34DF.

"Dual Fuel BMPP memiliki dimensi yang compact dan sarat barge rendah yang cocok untuk daerah terpencil," kata Sutrisno.

Sutrisno menyampaikan BMPP ini juga memiliki keunggulan fleksibilitas pengoperasian dengan bahan bakar yang berbeda, dapat dioperasikan dengan mode BBM atau diesel atau mode Gas tanpa perlu mematikan pembangkit dan tanpa kedip, memiliki Heat Rate dan Spesific Fuel Consumption (SFC) yang sangat efisien serta mampu dioperasikan secara terus-menerus tanpa docking repair selama 20 tahun sehingga dapat memenuhi kebutuhan atau mengganti pembangkit terapung di beberapa wilayah Indonesia.

Direktur Pengembangan dan Niaga PT Indonesia Power Adi Supriono mengatakan penempatan Dual Fuel BMPP di wilayah Indonesia Timur tepatnya di Kolaka, Sulawesi Tenggara selain menjadi program nasional juga dikarenakan daerah tersebut memiliki potensi ekonomi yang tinggi serta secara geografis berdekatan dengan wilayah berpotensi rawan bencana.

"Dengan demikian, BMPP mampu mengatasi masalah listrik di daerah terpencil utamanya pada saat terjadi bencana karena BMPP tersebut dapat dipindah dengan cepat," kata Supriono.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement