Kamis 23 Jan 2020 16:46 WIB

BI Pastikan Tren Penguatan Rupiah tak Rugikan Eksportir

BI menyebut penurunan nilai ekspor berbanding lurus dengan nilai impor bahan baku.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan disela-sela Peluncuran Integrasi Pelaporan di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (19/12/2019).
Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan disela-sela Peluncuran Integrasi Pelaporan di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (19/12/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan, penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi belakangan ini masih sesuai dengan fundamental perekonomian Indonesia maupun mekainsme pasar dunia.  Oleh karena itu, tren tersebut masih dalam batasan yang terkendali.

Perry menjelaskan, pengaruh dari nilai tukar di Indonesia berbeda dengan negara lain. Kondisi ini justru mampu mendorong investasi ke dalam negeri. "Aliran modal asing masuk, sejalan dengan mekanisme pasar," ujarnya dalam konferensi pers Komite Sistem Stabilitas Keuangan (KSSK) di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (22/1).

Nilai tukar rupiah terlihat mulai mengalami penguatan sejak pekan pertama 2020. Di perdagangan pasar spot hari ini, nilai tukar rupiah berada di Rp 13.640 per dolar AS, atau lebih kuat dibandingkan rata-rata tahun lalu yang biasa di atas Rp 14 ribu per dolar AS.

Tidak hanya menambah aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik, Perry menilai, tren penguatan rupiah akan menguntungkan industri dalam negeri.Khususnya terhadap industri yang masih membutuhkan impor bahan baku. Sebab, nilai barang yang mereka beli akan cenderung lebih murah.

Perry juga menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo mengenai penguatan rupiah saat acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan pada pekan lalu, Kamis (16/1).

Saat itu, Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia harus berhati-hati terhadap penguatan rupiah yang terlalu cepat. Tren ini bisa berpotensi berdampak negatif terhadap beberapa pihak, seperti eksportir.

Perry menilai, penguatan rupiah juga tidak akan merugikan pengusaha dengan fokus ekspor. Sebab, penurunan nilai ekspor mereka akibat penguatan rupiah diimbangi dengan penurunan harga impor bahan baku. "Kalau manufaktur ekspor kan pasti terkait impor (bahan baku) yang tinggi," katanya.

Tidak hanya sektor manufaktur, eksportir komoditas juga tidak akan terdampak negatif dengan penguatan rupiah. Perry mengatakan, pengaruh dominan ekspor komoditas biasanya tidak terlalu sensitif dengan perlemahan rupiah. Mereka justru banyak dipengaruhi oleh tren harga komoditas global dan permintaan luar negeri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement