Jumat 10 Jan 2020 13:40 WIB

Upaya Cina Bersaing dengan Airbus dan Boeing Terhambat Lagi

Pesawat C919 merupakan upaya serius Cina untuk mengalahkan dominasi Boeing-Airbus.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda
Comac C919 milik Cina
Foto: Wikipedia
Comac C919 milik Cina

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pengembangan pesawat single-aisle (satu lorong) C919 milik Cina kembali mundur. Padahal, pengembangan ini setidaknya sudah lima tahun terlambat dari jadwal yang direncanakan. Menurut banyak orang yang memahami isu pengembangan tersebut menyebutkan, perusahaan harus berjuang dengan berbagai masalah teknis yang menghambat proses uji coba C919.

C919 dikembangkan oleh perusahaan asal Cina, Commercial Aircraft Corporation (COMAC). C919 merupakan pesawat penumpang besar single-aisle yang dibuat sesuai dengan peraturan perundangan internasional. Ia dirancang untuk bersaing dengan Boeing 737 Max dan Airbus A320.

Baca Juga

Penundaan adalah hal biasa dalam program kerdigantaraan yang kompleks. Tapi, kemajuan yang lambat ini menjadi hal memalukan bagi Cina mengingat mereka sudah banyak berinvestasi pada C919. Pengembangan pesawat ini merupakan upaya serius pertama Cina untuk mengalahkan dominasi Boeing dan Airbus di pasar global.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (10/1), permasalahan terbaru berasal dari kesalahan matematis. Menurut empat responden yang paham isu ini, insinyur COMAC salah menghitung kekuatan yang akan ditempatkan pada mesin pesawat. Mereka juga mengirimkan data yang tidak akurat ke produsen mesin, CFM International.

Dampaknya, mesin dan pelindungnya harus diperkuat. Upaya ini kemungkinan besar dilakukan dengan biaya dari COMAC.

Permasalahan tersebut terlihat setelah COMAC melakukan uji penerbangan selama lebih dari 2,5 tahun untuk mendapat persetujuan akhir oleh Administrasi Penerbangan Sipil Cina (CAAC).

COMAC tercatat sudah mengembangkan C919 sejak 2008. Tapi, mereka memang jarang mengungkapkan proyek tersebut karena bersifat rahasia.

Salah seorang pejabat COMAC, Yang Yang, sempat menyebutkan bahwa pihaknya menargetkan sertifikasi dari regulator sudah bisa diterima perusahaan pada 2021 atau 2022. Harapan ini disampaikannya pada September lalu, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Tapi, dengan kondisi saat ini, pihak terdekat COMAC pesimistis dengan target yang disampaikan Yang. Salah satu penyebabnya, perusahaan belum menyelesaikan perhitungan dan data yang benar untuk dikirim ke pabrik mesin. Data tersebut menjadi kunci untuk memastikan bahwa mesin C919 tidak gagal karena beratnya beban.

"Segala sesuatu tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Tapi, saya berharap COMAC tidak usah terburu-buru. Kalau tidak, akan ada banyak masalah nanti," ujar salah satu sumber yang memahami masalah mesin C919 kepada Reuters.

Sampai saat ini, COMAC belum memberikan tanggapan kepada Reuters mengenai isu tersebut. CFM, perusahaan patungan antara General Electric dengan Safran Prancis pun menolak berkomentar.

Penuh Tekanan

Rangkaian hambatan sudah dihadapi COMAC. Sebelumnya, perusahaan sempat menemukan retakan pada stabilitator horisontal dari pesawat yang pertama dibangun. Tapi, permasalahan ini sudah diperbaiki.

Pada 2018, tiga sumber mengatakan kepada Reuters, gearbox dalam mesin pesawat diketahui rentan retak. Masalah ini berpotensi mempengaruhi semua enam jet C919 yang sedang dalam tahapan uji penerbangan.

Kesalahan perhitungan mesin yang terjadi pada C919 menggambarkan bahwa kurangnya pemahaman produsen Cina dalam merancang dan membangun pesawat komersial. Berbagai permasalahan yang menghadang COMAC membuat banyak pengamat industri pesimistis dengan masa depan C919. Merka menilai, tren permintaan pesawat komersial akan menurun pada tahun ini, seiring dengan kepercayaan bisnis yang berkurang di tengah ketegangan geopolitik.

Tapi, Beijing mungkin tidak sepenuhnya kecewa apabila jet C919 mereka gagal bersaing di pasar internasional. Beberapa analis menilai, pemerintah Cina dapat mengarahkan perusahaan penerbangan domestik untuk membeli jet tersebut.

Kepala Analis DCA Chine-Analyze Jean-Francois Dufour mengatakan, misi nyata C919 adalah untuk menaklukan pasar domestik yang didominasi oleh dua pesaing asingnya, Boeing dan Airbus. "Sepuluh hingga 15 tahun dari sekarang, generasi berikutnya dari C919 ataupun model lain yang dikembangkan C919 dapat menjadi pesaing nyata di kancah global," katanya.

Beijing menjadikan C919 sebagai bagian tak terpisahkan dari inisiatif  Made in China 2025 yang dirancang untuk mengejar teknologi canggih dan membantu Cina menjadi negara mandiri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement