Rabu 08 Jan 2020 17:08 WIB

Peruri Sebut Pertumbuhan Kebutuhan Uang Kertas Masih Tinggi

Penggunaan uang kartal atau kertas masih dominan, terutama di kota kecil.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Friska Yolanda
Karyawan Bank Indonesia merapikan uang rupiah berbagai pecahan. Perum Peruri menyebut penggunaan uang kartal masih cukup tinggi.
Foto: Antara/Kornelis Kaha
Karyawan Bank Indonesia merapikan uang rupiah berbagai pecahan. Perum Peruri menyebut penggunaan uang kartal masih cukup tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perum Peruri menyampaikan tidak khawatir dengan pesatnya perkembangan ekonomi digital yang mengada pada sistem pembayaran nontunai. Direktur Pengembangan Usaha Perum Peruri Fajar Rizki mengatakan penggunaan uang kartal atau kertas masih dominan dilakukan masyarakat Indonesia.

Fajar mengatakan transaksi nontunai sendiri lebih marak dilakukan masyarakat yang ada di perkotaan. Meski begitu, Peruri menjadikan penggunaan sistem pembayaran nontunai menjadi sebuah tantangan bagi perusahaan.

Baca Juga

"Mungkin pertumbuhan pembayaran nontunai di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan cukup tinggi, namun permintaan uang fisik di kota kecil masih tinggi," ujar Fajar di Kantor Kementerian BUMN, Rabu (8/1).

Fajar menyampaikan Peruri bisa mengambil manfaat dari perkembangan pembayaran nontunai dengan menyediakan sistem keamanan digital yang menjadi salah satu produk andalan Peruri. "Kita memang tidak masuk dalam bisnis uang digital tapi kita masuknya digital security," kata Fajar. 

Fajar menyebutkan banyak perusahaan teknologi finansial (tekfin) yang telah menggunakan sistem keamanan digital yang dimiliki Peruri. Fajar menyingkapkan kebutuhan BI terhadap uang kertas yang terus meningkat dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

"Setiap dua tahun itu kita mendapat pesanan dari BI itu sekira Rp 8 miliar lembar uang yang kita produksi," ucap Fajar. 

Berdasarkan hasil riset yang diterima, Fajar menyebutkan kebutuhan akan uang kertas maupun logam di dunia masih tumbuh dua persen hingga tiga persen. Sementara pertumbuhan kebutuhan uang kertas dan logam di Indonesia sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Negara kita ini negara berkepulauan yang kebutuhan uang fisiknya boleh dibilang masih tumbuh sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Kota-kota yg masih jauh masih menggunakan uang secara fisik, permintaannya pun masih tumbuh," kata Fajar menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement