Rabu 27 Nov 2019 06:05 WIB

Hyundai Mulai Bangun Pabrik di Indonesia pada Desember 2019

Hyundai berinvestasi 1,55 miliar dolar AS untuk pabrik baru di Indonesia.

Executive Vice Chairman Hyundai Euisun Chung berjalan seusai melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (25/7/2019).
Foto: Antara/Wahyu Putro A
Executive Vice Chairman Hyundai Euisun Chung berjalan seusai melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (25/7/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hyundai Motor Company akan mulai membangun pabrik kendaraan bermotor senilai 1,55 miliar dolar AS di Kota Deltamas, Cikarang, Kabupaten Bekasi, pada Desember mendatang. Kesepakatan itu diungkapkan di pabrik Hyundai Motor di Ulsan, Korea Selatan, Selasa (26/11), setelah perusahaan tersebut mengumumkan telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Indonesia untuk membangun pusat manufaktur pertama di kawasan ASEAN.

Penandatanganan nota kesepahaman dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, Executive Vice Chairman Hyundai Motor Group Euisun Chung, serta Presiden dan CEO Hyundai Motor Company Wonhee Lee.

Baca Juga

"Pembangunan pabrik manufaktur Hyundai Motor di Indonesia dapat terlaksana berkat kerja sama dan dukungan dari pemerintah Indonesia. Kami secara aktif akan terus mendengarkan dan menanggapi setiap harapan dan kebijakan pemerintah Indonesia berkaitan dengan kendaraan ramah lingkungan serta akan terus berupaya berkontribusi terhadap komunitas ASEAN," kata Chung dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (26/11).

Pabrik manufaktur seluas 77,6 hektare itu memiliki nilai investasi kurang lebih sebesar 1,55 miliar dolar AS hingga tahun 2030, termasuk biaya operasional dan pengembangan produk.

Fasilitas manufaktur yang akan mulai dibangun pada Desember ini diharapkan bisa memulai produksi komersial pada paruh kedua tahun 2021, dengan kapasitas tahunan sekitar 150 ribu unit. Ada pun kapasitas penuh pabrik akan dapat memproduksi sekitar 250 ribu kendaraan setiap tahunnya.

Di pusat manufaktur itu, Hyundai berencana untuk memproduksi SUV kompak, MPV kompak, dan model sedan yang dirancang khusus untuk pelanggan di pasar Asia Tenggara. Selain itu, perusahaan juga akan menggabungkan fasilitas untuk stamping, pengelasan, pengecatan dan perakitan.

Selain kendaraan jadi, perusahaan juga berencana untuk mengekspor 59 ribu unit kendaraan Completely Knocked Down (CKD) per tahun. Keputusan Hyundai Motor untuk melakukan investasi juga dimaksudkan untuk memastikan pertumbuhan di masa mendatang dengan menjajaki pasar-pasar baru di kawasan ASEAN di tengah perlambatan yang sedang berlangsung di pasar otomotif global.

Selain memasok pasar lokal Indonesia, produksi yang dihasilkan fasilitas tersebut akan ditujukan untuk pasar-pasar utama di kawasan ASEAN lainnya, termasuk Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Perusahaan juga tengah mempertimbangkan untuk mengekspor produknya ke Australia dan Timur Tengah.

Hyundai berharap bisa mendapatkan manfaat dari pemberlakuan tarif preferensial di pasar-pasar tersebut, yang berlaku untuk barang-barang yang berasal dari kawasan ini.

Pasalnya, berdasarkan Ketentuan Asal Barang (Rules of Origin/ROO) dari perjanjian Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Area/AFTA), barang dengan setidaknya 40 persen konten lokal ASEAN dapat dikenai pembebasan tarif.

Pabrik di Deltamas diklaim akan menjadi pusat untuk berbagai fasilitas pemasok lokal, di mana Hyundai berharap dapat turut berkontribusi pada pertumbuhan ekosistem suku cadang otomotif Indonesia dengan memberikan dukungan kepada mitra lokal dengan kemampuan dan sumber daya produksi internal.

Perusahaan itu mengharapkan untuk dapat menciptakan lebih dari 23 ribu lapangan kerja baru baik secara langsung maupun tidak langsung di pabrik Indonesia ini dengan menggandeng pemasok mitra lokalnya. Hyundai Motor saat ini mengoperasikan pabrik di delapan negara termasuk Amerika Serikat, China dan India.

Penambahan pembangunan pabrik di Indonesia akan memperluas jaringan produksi global Hyundai, mengoptimalkan pasokan untuk dapat menjawab permintaan pelanggan dengan lebih baik di semua benua.

Indonesia sebagai pasar mobil terbesar di kawasan ASEAN telah mencatatkan penjualan sebesar 1,15 juta unit dalam penjualan tahunan tahun lalu dan dianggap sebagai pasar yang sangat potensial. Negara-negara utama ASEAN termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura diperkirakan akan menciptakan pasar otomotif sekitar 4,49 juta unit pada 2026, dari sebelumnya 3,16 juta unit pada 2017.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement