Kamis 21 Nov 2019 12:38 WIB

Amerika Tanam Investasi di Indonesia 36 Miliar Dolar AS

Mayoritas investasi Amerika di sektor hulu migas Indonesia.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Bendera Amerika Serikat
Foto: anbsoft.com
Bendera Amerika Serikat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama periode 2013 hingga 2017, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) sudah berinvestasi setidaknya 36 miliar dolar AS ke Indonesia. Total tersebut dengan mempertimbangkan investasi di sektor hulu minyak dan gas (migas) dengan nilai sebesar 28,1 miliar dolar AS dalam periode yang sama.

Dengan total itu, AS tercatat sebagai sumber utama investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) ke Indonesia selama kurun waktu 2013-2017. Nilainya lebih besar dibandingkan Cina dan Singapura yang masing-masing sudah berinvestasi sebesar 9,4 miliar dolar AS dan 34,0 miliar dolar AS.

Baca Juga

Data ini disampaikan melalui laporan yang dibuat AmCham Indonesia bersama Kamar Dagang AS bertajuk Making an Impact. Laporan yang didanai oleh USAID Indonesia ini dirilis pada Kamis (21/11), bertepatan dengan 7th Annual US-Indonesia Investment Summit di Jakarta.

Nominal yang dicantumkan dalam laporan jauh lebih besar dibandingkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Angka resmi dari pemerintah Indonesia diketahui tidak memasukkan sektor hulu migas yang selama ini menjadi salah satu tujuan utama investasi AS.

Managing Director AmCham Indonesia Lin Neumann menuturkan, laporan ini memperlihatkan besarnya peranan investasi AS di Indonesia. "Kami sekali lagi menemukan bahwa AS merupakan sumber FDI terbesar untuk Indonesia," tuturnya.

Tidak hanya berbicara nominal, wawancara dengan pejabat pemerintahan dan pemimpin dunia usaha di Indonesia memperlihatkan perusahaan-perusahaan AS memberikan beberapa dampak. Di antaranya, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan keterampilan tenaga kerja hingga mentransfer pengetahuan dan teknologi.

Laporan Making an Impact juga memperlihatkan, perbaikan regulasi untuk memulai bisnis di Indonesia telah dirasakan investor AS. Hanya saja, ketika perizinan telah dikeluarkan dan proses pembangunan hendak dimulai, masalah operasional mendasar masih saja terjadi. Sebut saja kurangnya pekerja terampil, ketidakpastian peraturan hingga korupsi.

Senior Vice President Kamar Dagang AS untuk Asia Charles Freeman mengatakan, dunia bisnis AS ingin sekali mendengarkan rencana pemerintahan kabinet yang baru mengenai reformasi ekonomi. Khususnya terkait peraturan dan langkah operasional yang akan memudahkan investor AS untuk masuk ke Indonesia.

Menurut Freeman, investor AS siap untuk berinvestasi dan membantu Indonesia dalam mencapai tujuan pembangunannya yang ambisius. "Kami berharap dapat bekerja sama untuk meningkatkan hubungan perdagangan bilateral kami," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement