Rabu 20 Nov 2019 12:37 WIB

Transaksi E-Commerce Indonesia Diprediksi Capai Rp 913,6 T

Sektor e-commerce menyumbang 58 persen dari total investasi di Indonesia tahun 2018.

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya
ecommerce
ecommerce

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan teknologi e-commerce lokal Sirclo meluncurkan hasil pertama dari laporan e-commerce mereka yang berjudul Navigating Market Opportunities in Indonesia’s E-Commerce. Laporan tersebut memaparkan informasi-informasi mengenai tren pertumbuhan pasar e-commerce Indonesia, seperti perbandingan dengan pasar lain di Asia Tenggara, jumlah investasi pemerintah untuk infrastruktur e-commerce serta potensi pasar untuk investor global dan lokal.

Chief Executive Officer dan Co-Founder Sirclo Brian Marshal mengatakan para investor optimis dan berani berinvestasi di pasar e-commerce Indonesia. Sebab, menurut data yang terkumpul dalam laporan Sirclo, penjualan ritel e-commerce Indonesia diperkirakan mencapai 15 miliar dolar AS (Rp 210,8 triliun) pada 2018 dan akan meningkat lebih dari empat kali lipat pada 2022 menyentuh angka 65 miliar dolar AS (Rp 913,6 triliun).

Baca Juga

“Hal ini membuat ritel online yang tadinya hanya menyumbang 8 persen penjualan total pada 2018 akan menembus 24 persen pada 2022,” ujarnya kepada Republika di Jakarta, Rabu (20/11).

Dalam sesi presentasi, hasil laporan tersebut menunjukkan peningkatkan sebesar 200 persen investasi digital di Indonesia dari tahun ke tahun. Adapun kenaikan jumlah dan nilai investasi ini paling jelas terlihat pada sektor e-commerce yang menyumbang 58 persen dari total nilai investasi keseluruhan 2018 atau sekitar 3 miliar dolar AS (Rp 42 triliun), diikuti sektor transportasi sebesar 38 persen.

“Hal ini terjadi kemunculan unicorn e-commerce tanah air seperti Tokopedia dan Bukalapak yang berhasil menarik perhatian berbagai investor luar dan dalam negeri,” ucapnya.

Brian mencontohkan saat ini Tokopedia yang mengantongi investasi senilai 1,1 miliar dolar AS (Rp 15,4 triliun) dari Alibaba pada akhir 2018 dan Bukalapak yang mendapat suntikan dana dari Mirae dan Naver Corp senilai 50 juta dolar AS (Rp 700 miliar) pada kuartal pertama 2019.

“Sekarang, pertumbuhan industri e-commerce Indonesia sedang dalam masa pesatnya. Di Indonesia, kami melihat masih banyak pemain lokal yang memiliki potensi bertumbuh pesat. Apabila kita dukung dengan teknologi dan kolaborasi informasi seperti ini mampu memaksimalkan potensi dan ekspansi bisnis mereka,” ucapnya.

Ke depan, pihaknya optimis terhadap potensi perkembangan industri e-commerce di tanah air. Bahkan beberapa tahun mendatang, akan berkembang menjadi delapan hingga 10 kali lipat, sehingga diharapkan dapat mendorong kerja sama yang lebih erat lagi antar penjual ritel, marketplace, pemerintah, dan e-commerce enabler untuk mengakselerasikan pertumbuhan.

“Melihat data-data internal maupun eksternal, pertumbuhan e-commerce di Indonesia pada tahun ini masih sangat positif,” ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement