Senin 07 Oct 2019 15:24 WIB

Pemanfaatan Benih Padi Hibrida oleh Petani Masih Rendah

Harga bibit padi hiprida lebih mahal tapi produksinya juga lebih tinggi.

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Dwi Murdaningsih
Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kelima kanan) bersama Founder Artha Graha Peduli (AGP) Tomy Winata (kiri) dan Gapoktan Tani Maju Cimalaya memanen padi hibrida di Desa Sukamandi, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Jumat (20/11).
Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kelima kanan) bersama Founder Artha Graha Peduli (AGP) Tomy Winata (kiri) dan Gapoktan Tani Maju Cimalaya memanen padi hibrida di Desa Sukamandi, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Jumat (20/11).

REPUBLIKA.CO.ID, SUBANG -- Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, melansir, sampai saat ini pemanfaatan padi hibrida di kalangan petani masih belum maksimal. Padahal, benih padi hibrida ini cukup potensial. Rata-rata hasil produksinya lebih dari 12 ton per hektarenya.

Kepala BB Padi Sukamandi, Kabupaten Subang, Priatna Sasmita, mengatakan, padi hibrida ini memiliki sejumlah keunggulan. Salah satunya, potensi hasil yang lebih tinggi dibanding padi inbrida. Karena itu, pemerintah berupaya membuat terobosan pengembangan benih padi hibrida ini. Tujuannya, untuk mendongkrak peningkatan hasil produksi.

 

"Jika hasil produksinya tinggi, maka petani akan diuntungkan," ujar Priatna, kepada Republika.co.id, Senin (7/10).

 

Meski demikian, perkembangan industri benih padi hibrida di Indonesia sampai saat ini masih jauh dari yang diharapkan. Padahal, benih padi ini telah dikembangkan sejak 2003 silam.

 

Berdasarkan pengamatannya, minat inovasi industri benih hibrida masih rendah. Selain itu, sumber daya penangkar yang tidak sebanding dengan kebutuhan. Tak hanya itu, petani menilai ketidakmurnian genetik tetua padi hibrida. Serta selisih keuntungan produksi benih padi hibrida yang kecil.

 

Kondisi tersebut, menjadi faktor penyebab rendahnya tingkat adopsi padi hibrida. Tak hanya itu, harga benih padi hibrida jauh lebih mahal dibanding benih inbrida. Sebab, harga benih padi hibrida mencapai Rp 130 ribu per kilogram. Sedangkan, padi inbrida hanya Rp 10 ribu per kilogramnya.

 

"Tetapi, provitas padi hibrida ini cukup tinggi," ujarnya.

 

Sejumlah petani yang sudah merasakan keuntungan menanam padi hibrida, lanjut Priatna, mereka bersedia membeli berapapun harga benih yang ditawarkan. Seperti, petani di Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung, sudah konsisten menggunakan benih padi hibrida ini.

 

Menurut mereka, keuntungan yang diperolehnya antara 20 sampai 30 persen dibanding penanaman padi inbrida. Karena itu, pihakya mengklaim memberikan dukungan serius dalam penelitian dan pengembangan padi hibrida di Indonesia. 

 

Pengembangan padi hibrida ini, dimulai dari skala riset, bantuan benih sebagai upaya peningkatan diseminasi dan adopsi. Sampai dengan alih teknologi dan komersialisasi ke tingkat masyarakat. 

 

Selain itu, kerja sama dengan pemerintah daerah, perusahaan nasional maupun multinasional dilakukan pula untuk komersialisasi varietas padi hibrida ini. Beberapa perusahaan yang mengembangkan padi hibrida milik Kementan, antara lain PT Petrokimia Gresik yang melisensi Hipa 18, PT Bayer Indonesia melisensi Hipa 20, PT Saprotan Benih Utama  yang melisensi Hipa 12 dan Hipa 14. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement