Selasa 24 Feb 2026 13:07 WIB

Redam Lonjakan Harga Cabai, Ini Jurus Kementan

Intervensi distribusi dilakukan agar harga tetap terjangkau.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Ahmad Fikri Noor
Pedagang mengambil cabai untuk ditimbang di Pasar Tebet Timur, Jakarta, Senin (15/12/2025).
Foto: Republika/Prayogi
Pedagang mengambil cabai untuk ditimbang di Pasar Tebet Timur, Jakarta, Senin (15/12/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) mengguyur 1,7 ton cabai rawit merah ke Pasar Induk Kramat Jati pada Ahad (22/2/2026). Langkah ini ditempuh guna meredam lonjakan harga di tingkat konsumen bertepatan dengan momen Ramadhan.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muhammad Agung Sunusi, menyampaikan pasokan cabai ke pasar induk tersebut akan terus diperkuat melalui pengiriman dari sentra produksi yang didukung jaringan champion cabai di berbagai daerah.

Baca Juga

“Pasokan ke PIKJ akan terus kami jaga. Champion cabai di sentra produksi siap mengirimkan cabai rawit merah secara berkelanjutan agar kebutuhan masyarakat selama Ramadan tetap terpenuhi,” kata Agung di Jakarta, dikutip Selasa (24/2/2026).

Ia menjelaskan, harga cabai rawit merah dari champion cabai ditetapkan di kisaran Rp 50.000 per kilogram. Untuk menahan harga di tingkat konsumen, pemerintah melalui fasilitasi distribusi pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan subsidi biaya transportasi dari sentra produksi ke pasar induk.

Dengan skema tersebut, harga cabai rawit merah di tingkat konsumen diharapkan tidak melampaui Rp 65.000 per kilogram. Intervensi distribusi diarahkan agar pasokan tetap lancar dan harga tetap terjangkau saat permintaan meningkat.

Agung merinci, secara umum harga komoditas hortikultura lain relatif stabil. Cabai rawit putih berada di kisaran Rp 30.000 per kilogram, cabai keriting hijau Rp 25.000 per kilogram, cabai merah besar Rp 40.000 per kilogram, dan cabai keriting merah Rp 50.000 per kilogram. Kenaikan signifikan hanya terjadi pada cabai rawit merah dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut dia, kenaikan harga dipicu curah hujan tinggi di sejumlah sentra produksi yang menghambat aktivitas panen. Pada saat yang sama, konsumsi masyarakat meningkat menjelang Ramadan, termasuk kebutuhan untuk tradisi nyekar di sejumlah daerah.

“Curah hujan tinggi membuat petani tidak bisa melakukan pemetikan secara optimal. Ditambah peningkatan konsumsi masyarakat menjelang Ramadan, harga sempat naik. Namun dengan intervensi distribusi ini, kami optimistis harga segera stabil,” ujar Agung.

Kementan memastikan pemantauan harga dan pasokan dilakukan secara berkala di seluruh wilayah. Koordinasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, serta jaringan distribusi terus diperkuat agar aliran pasokan dari sentra produksi ke pasar berjalan lancar.

Langkah stabilisasi ini menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus melindungi daya beli masyarakat selama Ramadan. Pemerintah menegaskan intervensi distribusi dilakukan secara responsif agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dengan harga terjangkau.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement