Ahad 22 Feb 2026 19:58 WIB

Harga Bahan Pangan Tinggi Awal Ramadhan, Telur dan Cabai Masih Naik

Penjual terpaksaa mengurangi omset penjualannya.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Lida Puspaningtyas
Pedagang menata cabai dagangannya di Tebet Barat, Jakarta, Senin (9/2/2026). Menurut pedagang, harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tersebut menjelang bulan suci Ramadan mengalami kenaikan. Di antaranya, harga cabai rawit merah mencapai Rp100.000 per kilogram dan tomat menjadi Rp24.000 per kilogram, sementara harga bawang merah dan bawang putih belum mengalami kenaikan signifikan. Selain itu, harga sayuran hijau seperti sawi, bayam, kangkung, hingga buncis juga mengalami kenaikan rata-rata Rp1.000 hingga Rp2.000, yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan.
Foto: Republika/Prayogi
Pedagang menata cabai dagangannya di Tebet Barat, Jakarta, Senin (9/2/2026). Menurut pedagang, harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tersebut menjelang bulan suci Ramadan mengalami kenaikan. Di antaranya, harga cabai rawit merah mencapai Rp100.000 per kilogram dan tomat menjadi Rp24.000 per kilogram, sementara harga bawang merah dan bawang putih belum mengalami kenaikan signifikan. Selain itu, harga sayuran hijau seperti sawi, bayam, kangkung, hingga buncis juga mengalami kenaikan rata-rata Rp1.000 hingga Rp2.000, yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Memasuki awal puasa, harga sejumlah bahan pangan di pasar tradisional belum menunjukkan penurunan. Tak hanya memberatkan konsumen, kondisi itu juga menurunkan omset pedagang sayur keliling.

Seorang pedagang telur di Pasar Pagi Kota Cirebon, Rohman (62), menyebutkan, harga telur sekarang Rp 32 ribu per kilogram. Padahal saat jelang puasa, harganya masih Rp 29 ribu per kilogram.

Baca Juga

“Ya naik terus harganya, bertahap sampai sekarang sudah Rp 32 ribu per kilogram,” ujar Rohman, Ahad (22/2/2026).

Rohman menilai, terus naiknya harga telur dikarenakan tingginya permintaan dari konsumen. Tak hanya konsumsi rumah tangga, tingginya permintaan telur juga berasal dari permintaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Bulan puasa kan MBG gak libur. Dan salah satu menuknya biasanya telur,” katanya.

Selain itu, lanjut Rohman, saat ini banyak juga yang menjual kue kering untuk persiapan lebaran Idul Fitri. Karenanya, permintaan telur semakin meningkat. 

Tak hanya telur, harga cabai rawit merah juga semakin melonjak. Saat jelang puasa, harga komoditas tersebut sudah naik menjadi Rp 100 ribu per kilogram. Namun kini sudah di kisaran Rp 140 ribu per kilogram.

“Yang lainnya juga naik,” kata seorang pedagang sayuran di pasar tersebut, Ilah (40).

Kenaikan harga itu di antaranya terjadi pada bawang merah dari Rp 30 ribu – Rp 35 ribu per kilogram menjadi Rp 45 ribu – Rp 48 ribu per kilogram. Harga itu berbeda-beda tergantung ukurannya.

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada wortel dari Rp 12 ribu – Rp 13 ribu per kilogram menjadi Rp 18 ribu per kilogram, timun dari Rp 10 ribu per kilogram menjadi Rp 15 ribu per kilogram, dan tomat dari Rp 8 ribu – Rp 10 ribu per kilogram kini dijual Rp 16 ribu per kilogram.

Ada pula daun bawang dari Rp 16 ribu per kilogram menjadi Rp 24 ribu per kilogram dan kol yang kini dijual Rp 16 ribu hingga Rp 18 ribu per kilogram. 

Tingginya harga sayuran itu membuat Ilah harus mengurangi omset penjualannya. Apalagi, sayuran juga cepat busuk di musim penghujan ini jika tidak segera terjual. 

“Harga dari pemasoknya kan susah tinggi, sedangkan sayuran cepat sekali busuk. Jadi saya kurangi,” tutur Ilah. 

Tingginya harga bahan pangan pun membuat pedagang sayuran keliling ikut pusing. Mereka juga mengurangi omset penjualannya.

“Kayak contohnya cabai rawit merah, sekarang saya baru jual kalau ada yang pesan saja. Padahal biasanya saya selalu jual tiap hari. Sekarang mah gak laku karena kan mahal, saya jual Rp 8 ribu per ons, dari pasarnya Rp 7 ribu per ons,” ucap seorang pedagang sayuran keliling di daerah Cangkring, Kota Cirebon, Ida. 

Selain cabai rawit merah, Ida juga tidak berani mengambil barang dalam jumlah banyak. Pasalnya, ia akan rugi jika barang itu tidak laku.

“Semua saya kurangi. Contohnya kol, biasanya saya beli dua kilogram dari pasar, sekarang saya hanya beli satu kilogram untuk dijual lagi,” jelas Ida.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement