Rabu 18 Sep 2019 17:15 WIB

Dorong Ekspansi Ekspor, Pemerintah Kaji Insentif Tambahan

Kinerja ekspor nonmigas Indonesia hingga akhir tahun menghadapi tantangan yang berat.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Gita Amanda
Aktivitas ekspor impor (ilustrasi).
Foto: bea cukai
Aktivitas ekspor impor (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kinerja ekspor nonmigas Indonesia hingga akhir tahun menghadapi tantangan yang berat seiring pelemahan permintaan dunia. Pelemahan ekspor yang dihadapi saat ini cukup serius mengingat capaian ekspor nonmigas masih jauh dari target pemerintah tahun 2019.

Tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan nilai ekspor nonmigas tembus 175,8 miliar dolar AS atau naik 8 persen dari realisasi ekspor 2018 sebesar 162,65 dolar AS. Sementara, data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, nilai ekspor nonmigas kurun Januari-Agustus 2019 baru mencapai 101,48 miliar dolar AS.

Baca Juga

"Ini menjadi tantangan kita. Asosiasi, pengusaha, dan pemerintah sudah aktif melakukan diskusi, termasuk mengenai apabila diperlukan insentif," kata Direktur Pengembangan Ekspor Nasional, Kemendag, Dody Edward di Jakarta, Rabu (18/9).

Dody belum dapat merinci bentuk insentif yang dapat diberikan. Namun, kata dia, eksportir yang memiliki rekam jejak bagus dan berkontribusi besar bagi ekspor nasional berhak mendapatkan insentif tambahan. "Ini, masih kita gali. Nanti akan disampaikan," ujar dia.

Pihaknya enggan mengatakan bahwa capaian ekspor hingga akhir 2019 bakal lebih rendah dibanding 2018. Pemerintah masih optimistis ekspor terus mengalami peningkatan hingga penghujung tahun. Namun, ia mengakui tantangan eksportir tahun ini amat berat dan murni karena faktor global.

Perlambatan ekonomi dunia, tensi dagang antar negara, hingga masalah politik di timur tengah perlu disikapi dengan baik oleh Indonesia. Dody berjanji Kemendag akan lebih aktif menangani berbagai hambatan ekspor yang ditemui pelaku usaha hingga akhir tahun nanti.

Di sisi lain, Dody berharap perjanjian dagang yang dimiliki saat ini diharapkan cepat membantu Indonesia dalam memperkuat perdagangan internasional. Sebagai informasi, perjanjian dagang yang terakhir disepakati yakni Indonesia-Cile CEPA. Sementara, Indonesi-Mozambik PTA. Pemerintah melirik negara-negara yang selama ini bukan menjadi tujuan utama ekspor untuk mendiversifikasi pasar.

"Kita masih optimistis karena masih ada kesempatan. Daya saing produk kita masih cukup baik dan masih bisa dimaksimalkan," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement