REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perdagangan Republik Indonesia (RI) Budi Santoso menyampaikan Perjanjian Perdagangan Bebas RI–Uni Ekonomi Eurasia (Indonesia–EAEU Free Trade Agreement/FTA) segera ditandatangani. Perjanjian ini menjadi tonggak penguatan akses pasar serta posisi strategis Indonesia di kawasan Eurasia.
Indonesia–EAEU FTA membuka jalan masuk produk nasional ke lima negara anggota Uni Ekonomi Eurasia, yakni Rusia, Armenia, Belarusia, Kirgizstan, dan Kazakhstan.
Perjanjian tersebut diproyeksikan memperluas jangkauan perdagangan Indonesia ke kawasan nontradisional dengan basis pasar sekitar 179,8 juta penduduk. Pemerintah menempatkan Indonesia–EAEU FTA sebagai instrumen strategis untuk memperbesar skala perdagangan sekaligus memperkuat daya saing pelaku usaha nasional di pasar Eurasia.
“Indonesia akan memperoleh akses peluang pasar yang lebih luas di kawasan Eurasia yang mencakup Armenia, Rusia, Belarusia, Kirgizstan, dan Kazakhstan dengan potensi pasar yang signifikan,” kata Budi Santoso di Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kinerja perdagangan Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia menunjukkan tren positif. Pada 2024, total nilai perdagangan kedua pihak mencapai 4,5 miliar dolar AS. Dalam periode 2020–2024, rata-rata pertumbuhan perdagangan tercatat sebesar 21,45 persen, mencerminkan penguatan hubungan dagang Indonesia dengan negara-negara anggota EAEU.
“Perdagangan Indonesia dengan Eurasia kami harapkan naik hingga dua kali lipat. Kinerja ekspor di pasar ini juga menunjukkan capaian yang cukup baik. Di sisi lain, Indonesia membutuhkan barang-barang seperti barang modal dari Eurasia,” ujar Budi Santoso.
Pemerintah menilai keberhasilan perjanjian dagang sangat ditentukan oleh optimalisasi implementasi di lapangan. Penguatan jejaring bisnis ditempatkan sebagai prioritas agar manfaat FTA dapat segera dirasakan pelaku usaha. Kemendag mendorong pembentukan forum bisnis, termasuk rencana Forum Bisnis Indonesia–Belarusia, sebagai wahana mempertemukan pelaku usaha, memperkuat kemitraan, serta mendukung kelancaran perdagangan dan investasi.
“Terbukanya akses pasar memberi kesempatan untuk memperbesar skala perdagangan dan memperkuat daya saing Indonesia di pasar Eurasia. Pemerintah berkomitmen mendorong perdagangan internasional yang adil, nondiskriminatif, dan saling menguntungkan,” kata Budi Santoso.
Wakil Perdana Menteri Belarusia Viktor Karankevich menyampaikan kesiapan negara-negara EAEU untuk menandatangani perjanjian tersebut. Pada 24 November 2025, Presiden Belarusia Alexander Lukashenko telah menandatangani Keputusan Presiden yang menyetujui rancangan Indonesia–EAEU FTA sebagai dasar penandatanganan bersama negara anggota lainnya.
“Kami berharap kerja sama ini dapat meningkatkan kapasitas ekonomi dan taraf hidup masyarakat di Indonesia, Belarusia, serta negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia lainnya,” tutur Karankevich.
Forum tersebut juga membahas peluang dan tantangan implementasi Indonesia–EAEU FTA dari perspektif pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi. Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono menyampaikan perundingan Indonesia–EAEU FTA berhasil dirampungkan pada 2025 dengan proses relatif singkat sejak diinisiasi pada 2023.
Tahap awal perjanjian difokuskan pada perdagangan barang, sementara kerja sama jasa, investasi, dan aspek lainnya disiapkan sebagai pengembangan lanjutan.
Pemerintah menargetkan manfaat perjanjian mulai dirasakan pelaku usaha paling cepat pada akhir 2026 atau selambat-lambatnya 2027, seiring penyelesaian berbagai perjanjian dagang Indonesia dengan mitra internasional lainnya. Pasar Eurasia diposisikan sebagai mitra strategis di tengah dinamika global yang menuntut diversifikasi pasar ekspor.
Potensi produk Indonesia di pasar Eurasia mencakup komoditas berbasis kelapa sawit dan turunannya, serat alami, produk pertanian seperti kopi, teh, kakao, dan rempah-rempah, hingga pangan olahan. Peluang juga terbuka pada sektor industri, terutama komponen dan suku cadang otomotif, menyusul kekosongan pasokan di Rusia sejak sejumlah produsen Eropa menarik diri pada 2022. Produk perikanan segar dan olahan turut memiliki permintaan tinggi di kawasan tersebut.