Rabu 28 Aug 2019 07:43 WIB

OJK: Perusahaan Inggris Tertarik Investasi Green Financing

Indikator green financing di Indonesia tumbuh signifikan.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolanda
Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso
Foto: Republika/Edi Yusuf
Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah perusahaan investasi yang berasal dari Inggris menyatakan tertarik untuk memperbanyak investasinya di sektor jasa keuangan. Mereka tertarik terutama yang berhubungan dengan green financing dan menunjang pencapaian program pembangunan berkelanjutan.

Demikian pernyataan yang mengemuka dalam pertemuan United Kingdom Financial Services Dialogue 2019, akhir pekan lalu di Jakarta. Acara ini dihadiri Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Owen Jenkins serta puluhan investor dan jajaran eksekutif pasar keuangan Inggris.

Baca Juga

Acara ini diselenggarakan oleh Young Indonesian Professionals’ Association (YIPA) Inggris Raya yang berkerja sama dengan OJK and BritCham Indonesia dan didukung oleh British Embassy Jakarta, ICMA, ASIFMA, Equatorise, Accenture dan Ginting & Reksodiputro. “Acara ini diadakan karena ada ketertarikan untuk semakin mempererat hubungan bisnis dan investasi dari Inggris ke Indonesia” kata Direktur Eksekutif, YIPA Inggris Raya Steven Marcelino, dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Selasa (27/8).

Dubes Owen Jenkins juga menjelaskan Inggris sudah memposisikan diri sebagai negara mitra bagi Indonesia untuk berkolaborasi dalam green finance, islamic finance, fintech dan berbagai insitiatif penting lainnya di pasar keuangan.

Sampai 2019, indikator perekonomian hijau di Indonesia tumbuh cukup signifikan dengan total green loans di 133 miliar dolar AS (Rp 1,850 triliun), pengeluaran akumulatif green bonds 169 juta dolar AS dan pengeluaran green sukuk pemerintah 2 juta dolar AS.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan kondisi perekonomian Indonesia serta sektor jasa keuangan berada dalam kondisi yang stabil dan terjaga termasuk untuk menghadapi kondisi pelambatan perekonomian global. Menurut Wimboh, OJK bersama Bank Indonesia dan pemerintah Indonesia memiliki komitmen kuat untuk merespons tantangan-tantangan eksternal dengan berbagai kebijakan yang antisipatif. Di antaranya, Pemerintah meluncurkan berbagai tax incentives untuk menarik investasi masuk ke Indonesia dan Bank Indonesia sendiri telah menurunkan suku bunga sebanyak 50bp ke level 5,5 persen dalam dua bulan terakhir untuk antisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi global. 

OJK berkerja sama dengan berbagai pihak termasuk pemerintah baik pusat maupun daerah, Kadin, Apindo dan pelaku di industri keuangan untuk pengembangan sektor unggulan. Sektor itu di antaranya pariwisata, manufaktur, pertambangan, agribisnis dan perikanan. 

"Pengembangan sektor unggulan ini diharapkan dapat meningkatkan ekspor dan substitusi impor, membuka lapangan kerja dan meningkatkan tax based," kata Wimboh.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement