Jumat 22 Mar 2019 17:28 WIB

Industri Udang Lokal Waspadai Virus AHPND

Virus AHPND sudah mewabah di Malaysia, Thailand, Cina, Vietnam, Meksiko, dan India.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Udang tambak
Foto: IPB
Udang tambak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Industri budidaya udang lokal melakukan antisipasi langkah pencegahan masuknya virus paling mematikan di dunia atau acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND). Virus tersebut saat ini telah menjangkit di beberapa negara dan berdampak pada penurunan produksi dan merugikan petambak.

Direktur Jenderal Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto, meminta para pelaku pembudidaya udang lokal untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus tersebut. Sebab, geliat industri udang di Indonesia saat ini tengah mengalam peningkatan.

Baca Juga

“Kita harapkan virus itu tidak masuk di Indonesia karena mematikan. Di Malaysia, virus itu sudah ada. Ini harus dicegah supaya tidak tertular,” kata Slamet dalam Konferensi Pers di Gedung Mina Bahari IV, KKP, Jumat (22/3).

AHPND merupakan penyakit udang yang ditimbulkan oleh bakteri vibrio parahaemolyticus yang menjadi penghasil toksin mematikan. Umumnya, virus tersebut menyerang udang windu dan vaname. AHPND menyerang udang yang masih berusia kurang dari 40 hari setelah ditebar di tambak.

Saat ini, selain di Malaysia, virus AHPND sudah mewabah di Thailand, Cina, Vietnam, Meksiko, India. Menurut Slamet, dampak dari serangan virus AHPND menurunkan keseluruhan produksi udang nasional hingga 50 persen. Alhasil, penurunan itu berdampak pada perdagangan udang luar negeri di negara yang terjangkit.

Menurut Slamet, dari hasil monitoring yang dilakukan kurun waktu tiga tahun terakhir, setidaknya ada empat virus yang terdapat di Indonesia. Keempat virus itu yakni White Sport Disease (WSD), Infections Myonercrosis Virus (IMV), White Feces Disease (WFD), dan Enterocytozoon Hepatopenaei (EH).

Kurun waktu Oktober - Desember 2018, pihaknya mendapati kematian udang yang masih berumur di bawah 30 hari. Namun, setelah diidentifikasi, mayoritas disebabkan oleh virus WSD. Gejala virus tersebut dilaporkan mirip seperti AHPND, namun, kata Slamet, masih perlu dibuktikan secara ilmiah.

Sebagai antisipasi masuknya virus tersebut, KKP menetapkan kebijakna impor induk udang hanya boleh dari Amerika Serikat sebagai negara yang bebas dari AHPND. “Kita menolak impor udang dari negara yang terjangkit. Sudah kita sampaikan ke pelaku usaha,” ujar dia.

Bersama pelaku usaha, KKP juga telah menyepakati 12 perjanjian. Salah satunya, dengan mewajibkan para petambak udang untuk memiliki instalasi pengolahan limba (IPAL) yang sesuai dengan standar lingkungan.

Selain itu, ia pun meminta antar pelaku usaha untuk sama-sama saling mengawasi lalu lintas udang antar negara yang bisa terjadi di wilayah perbatasan. Pada bulan April mendatang, Slamet mengatakan, pihaknya juga segera mengirim tim surveilans ke Bali dan Jawa Tengah untuk upaya pencegahan.

Sebagai informasi, total produksi udang pada tahun 2017 mencapai 1,15 juta ton, meningkat dibanding produksi pada 2016 yang sebesar 698 ribu ton. Adapun produksi tahun 2017 didominasi oleh udang vaname yang mencapai 987,6 ribu ton, lalu diikuti udang windu 129,3 ribu ton dan udang jenis lainnya sebanyal 33,4 ribu ton.

Sementara, angka produksi sepanjang 2018 belum dirilis oleh KKP. Slamet mengatakan, angka resmi akan dirilis pada April mendatang.

Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) KKP, Rina, mengatakan, tim yang berada di pos lintas batas terus mengawasi ketat perdagangan lintas negara. Terutama dari potensi masuknya udang yang berasal dari Malaysia.

Rina mengatakan, saat ini BKIP memiliki 47 Unit Pembantu Teknis (UPT) yang berada di seluruh wilayah Indonesia. Sebanyak 10 UPT diantaranya sudah memiliki peralatan mutakhir untuk menguji penyakit yang kemungkinan menjangkit ikan.

“Ke depan karantina akan mewajibkan suatu uji penyakit untuk semua produk perikanan agar benar-benar bebas dari AHPND,” katanya.

Sementara itu, Presiden  Shrimp Club Indonesia, Iwan Soetanto, mengatakan, potensi industri udang di Indonesia sangat besar untuk bisa mendominasi pasar ekspor. Sebab, saat ini kebutuhan dunia akan udang masih kurang sekitar 500 ribu ton.

Di saat bersamaan, kondisi beberapa negara penghasil udang sedang mengalami masalah akibat wabah AHPND. Oleh sebab itu, dalam empat tahun ke depan, pihaknya bersama KKP menargetkan agar nilai ekspor udang meningkat sebesar 1 miliar dolar AS.

Peningkatan ekspor itu seturut peningkatan produksi udang yang diyaini akan terus berlanjut. “Tahun lalu saya perkirakan produksi naik 10 persen dari 2017, dan tahun ini naik lagi. Kenapa? karena petambak dan luas tambak tambah banyak. Terutama di Sumatra dan Jawa,” ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement