Rabu 16 Jan 2019 19:01 WIB

Rini dan Jonan 'Berseberangan' Soal Harga Avtur ke Maskapai

Menteri BUMN Rini Soemarno menyebut pihaknya tak bisa menekan Pertamina soal avtur.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
Truk tangki berisi Avtur berada di dekat pesawat yang akan melakukan proses pengisian bahan bakar di bandara. ilustrasi.
Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Truk tangki berisi Avtur berada di dekat pesawat yang akan melakukan proses pengisian bahan bakar di bandara. ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan persoalan harga avtur yang diributkan oleh para maskapai merupakan persoalan bisnis. Ia mengatakan komponen harga avtur tidak bisa begitu saja diubah karena hal tersebut merupakan kesepakatan kontrak bisnis.

Rini tak menampik bahwa harga avtur di Indonesia lebih tinggi daripada di Singapura. Namun Rini menjelaskan, hal ini karena Singapura mempunyai kebijakan untuk memberikan banyak kemudahan.

Kendati demikian, kata Rini, secara perhitungan harga avtur di Indonesia masih kompetitif. "Saya mengatakan avtur kita itu kompetitif ko dibandingkan negara-negara lain. Kita kan tidak, avtur ini kan hitungan-hitungan bisnis jadi kami mengatakan kita tidak bisa merombak harga atau menekan (Pertamina). Kan Pertamina harus menghitung secara cost-nya dia," ujar Rini, Rabu (16/1).

Rini juga menjelaskan kalaupun ada aspek yang bisa dikurangi dari beban para maskapai adalah biaya landing fee yang ditetapkan besarannya oleh PT Angkasa Pura (AP). Besaran landing fee ini kata Rini bisa dikurangi kalau hendak meringankan beban maskpai.

Berbeda dengan Rini, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengakui harga avtur di dalam negeri tidak kompetitif. Ia mengusulkan agar harga avtur ini bisa kompetitif maka perlu ada pengurangan beban pajak.

“Harga avtur harus bisa kompetitif. Kalau mau dikurangi, yang dikurangi adalah kebijakan pajaknya. Komponen lainnya harus bisa kompetitif,” ujar Jonan.

Jonan menjelaskan mekanisme penentuan harga avtur tentulah tidak sama seperti harga bahan bakar minyak (BBM) jenis lainnya. Ia menjelaskan harga BBM di setiap wilayah di Indonesia berbeda-beda, tergantung ongkos ditribusi.

Hanya saja, menurutnya, untuk di kota-kota besar harga avtur mestinya bisa lebih kometitif. "Di daerah seperti Merauke dan Tarakan mungkin bisa ditambahkan komponen harga. Namun, di Makassar, Surabaya dan Bali, harganya harus kompetitif," ujar Jonan.

Ia pun meminta agar Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, untuk mengecek kondisi di lapangan. "Ini saya minta Pak Wakil Menteri ESDM untuk mengecek karena sudah mulai ribut," ujar Jonan.

Sementara itu Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Hengki Angkasawan menjelaskan bahwa pembahasan avtur ini akan dirapatkan. "Kemarin juga Menteri (Perhubungan) sudah berkomunikasi dengan Menteri ESDM dan Menteri BUMN. Dan memang akan dilakukan evaluasi untuk harga avtur," ujar Hengki.

Sebelumnya, Ketua INACA I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra mengatakan, penurunan harga tiket pesawat bisa dilakukan jika harga bahan bakar avtur juga turun. Sebab komponen bahan bakar dari biaya operasi maskapai cukup besar yakni 40-45 persen.

"Saya sampaikan bila Pertamina bisa turunkan, kami juga bisa turunkan. Kami belum dapat konfirmasi yang definitif dari Pertamina," ujarnya

Di website Pertamina disebutkan bahwa harga bahan bakar Jet A-1 yang dijual perseroan di Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali sebesar Rp 8.900 per liter atau setara dengan 61,50 sen dolar AS. Sedangkan harga avtur di Bandara Adisucipto Yogyakarta sebesar Rp 9.150 per liter atau setara dengan 63,60 sen dolar AS.

Sementara di Bandara Soekarno Hatta, avtur dibandrol sebesar Rp 8.110 per liter atau 56 sen dolar AS. Di kawasan Indonesia Timur, seperti di Jayapura, avtur dibandrol sebesar Rp 10.880 per liter atau 75,2 sen dolar AS. Di Kupang, avtur dibandrol sebesar Rp 9.860 per liter atau 68.10 sen dolar AS.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement