Rabu 16 Jan 2019 00:14 WIB

Dua Penyebab Toko Ritel Terus Berguguran

Pergeseran cara belanja dan preferensi konsumen membuat toko ritel merugi.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nur Aini
Gerai waralaba 7 Eleven (sevel) di bilangan jl Salemba Jakarta nampak tutup, Rabu (28/6).
Foto: Republika/Darmawan
Gerai waralaba 7 Eleven (sevel) di bilangan jl Salemba Jakarta nampak tutup, Rabu (28/6).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengamat perilaku konsumen Yusowhady menilai, menurunnya kekuatan ritel yang hanya memanfaatkan toko sebagai tempat berjualan atau dikenal sebagai ritel tradisional sudah terlihat sejak 2017. Saat itu, pusat perbelanjaan seperti Glodok dan Roxi mulai sepi. Gerai Matahari dan Ramayana yang biasa dipenuhi konsumen pun tutup secara bertahap.

Redupnya kekuasaan ritel tidak hanya berlaku pada perusahaan lokal. Peritel global seperti H&M, Lotus hingga Dabenhams menghentikan operasinya. Menurut Yuswohady, ada dua kekuatan disruptif yang menyapu sektor ritel tradisional. "Disrupsi digital dan pergeseran preferensi konsumen," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (15/1).

Disrupsi digital memicu munculnya ecommerce yang saat ini telah menjadi semakin mainstream. Ada tiga nilai yang ditekankan platform ini sehingga mampu mengubah perilaku belanja konsumen dari offline ke online. Nilai tersebut adalah convenience (kenyamanan), cost (biaya lebih murah) dan time-efficient (efisiensi dari segi waktu).

Yuswohady mengatakan, disrupsi ini tidak bisa terhindarkan, terutama ketika Indonesia percaya diri masuk ke era Revolusi Industri 4.0. Era itu menghasilkan perubahan supercepat dan disruptif, termasuk ritel tradisional yang dibilas oleh ecommerce.

Faktor kedua, pergeseran preferensi konsumen dari konsumsi berbasis produk ke konsumsi berbasis pengalaman, terutama di kalangan milenial. Tren ini membuat masyarakat memutuskan mengurangi belanja barang di sejumlah ritel secara perlahan, seperti baju, sepatu atau tas. "Mereka beralih ke traveling ke tempat baru," tutur Yuswohady.

Satu hal yang dibutuhkan para peritel adalah inovasi. Tapi, Yuswohady menilai, para peritel di Indonesia belum menjadikan inovasi sebagai prioritas. Termasuk Sevel yang dulu sempat dinilai sebagai ‘gebrakan’ di antara paceklik ide bisnis segar industri ritel nasional kala itu.

Sevel menawarkan konsep ritel yang dipadukan dengan tempat tongkrongan anak muda dan berhasil diterima. Sayangnya, karena silau oleh kesuksesannya, Sevel tidak melakukan inovasi lanjutan untuk menyempurnakan konsep bisnis. Seperti yang Yuswohady tulis melalui situs pribadinya, Sevel menganggap inovasi sebagai sprinter game, bukan marathon game yang harus dilakukan terus menerus.

Menurut Yuswohady, inovasi bukanlah lomba lari cepat 100 meter, tapi lomba lari marathon. Artinya, setelah sebuah inovasi besar diwujudkan, masih dibutuhkan inovasi kecil dalam kurun waktu panjang. "Perusahaan yang kini sudah membuktikan dengan baik adalah Gojek," ucapnya.

Baca: MAP: Buka Tutup Toko Ritel Hal Normal

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement