Rabu 05 Dec 2018 15:22 WIB

BNI Syariah Raih Award The Best Commercial Bank di Malaysia

BNI Syariah tumbuh di atas rata-rata perbankan nasional.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Dwi Murdaningsih
BNI Syariah kembali meraih penghargaan internasional sebagai The Best Commercial Bank kategori sharia bank di Indonesia dalam acara Islamic Business & Finance Southeast Asia Award 2018. Penghargaan diberikan oleh William Mullaly, Editor of the Brand Islamic Business and Finance (kiri) kepada Direktur Bisnis BNI Syariah, Dhias Widhiyati (kanan) bertempat di Intercontinental Hotel, Kuala Lumpur (4/12).
Foto: BNI Syariah
BNI Syariah kembali meraih penghargaan internasional sebagai The Best Commercial Bank kategori sharia bank di Indonesia dalam acara Islamic Business & Finance Southeast Asia Award 2018. Penghargaan diberikan oleh William Mullaly, Editor of the Brand Islamic Business and Finance (kiri) kepada Direktur Bisnis BNI Syariah, Dhias Widhiyati (kanan) bertempat di Intercontinental Hotel, Kuala Lumpur (4/12).

REPUBLIKA.CO.ID,  KUALA LUMPUR -- BNI Syariah kembali meraih penghargaan internasional sebagai The Best Commercial Bank kategori sharia bank di Indonesia dalam acara Islamic Business & Finance Southeast Asia Award 2018. Penghargaan diberikan oleh William Mullaly, Editor of the Brand Islamic Business and Finance, majalah yang mensurvei kinerja lembaga keuangan di Asia Tenggara.

Penghargaan diterima oleh Direktur Bisnis BNI Syariah, Dhias Widhiyati di Intercontinental Hotel, Kuala Lumpur (4/12). Metode penilaian berdasarkan berbagai aspek diantaranya kinerja keuangan, laporan keuangan tahunan, hasil riset yang dilakukan oleh tim peneliti, voting online dan pendapat pakar di dalam industri perbankan syariah.

 

Dari sisi pembiayaan komersial per November 2018 sebesar Rp 6,558 triliun tumbuh sebesar 70,92 persen year on year dibandingkan dengan November 2017 sebesar Rp 3,837 triliun. Penyaluran pembiayaan komersial terbesar di sektor konstruksi sebesar 39 persen diikuti sektor industri pengolahan 20 persen, perdagangan 13 persen, jasa dunia usaha 11 persen, sektor listrik, gas dan air 7 persen, sosial masyarakat 6 persen, sektor pengangkutan, pergudangan dan komunikasi 4 persen dan pendidikan 1 persen. 

 

"Kami tetap optimis pembiayaan komersial BNI Syariah tumbuh positif hingga akhir 2018 dengan berbagai perluasan sektor pembiayaan dan penguatan sektor halal ecosystem," kata Dhias dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id.

Keterlibatan perseroan dalam sejumlah proyek infrastruktur, tambahnya merupakan bentuk dukungan terhadap percepatan pembangunan di dalam negeri. BNI Syariah tidak hanya berkiprah sendiri tetapi juga berkolaborasi dengan perbankan lain melalui pembiayaan sindikasi.

BNI Syariah berharap terus memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Islamic Business and Finance Magazine adalah media pertama yang mendedikasikan untuk pemberitaan keuangan islam yang berdiri sejak tahun 2005. Dengan topik seputar ritel, commercial and investment banking, sukuk, takaful, permodalan, komoditi, wealth management, bisnis halal, dengan coverage media sampai dengan Timur Tengah, Asia Tenggara, Asia Tengah, Eropa, dan Amerika Serikat.

Pertumbuhan kinerja BNI Syariah selama tahun 2018 tumbuh positif diatas rata-rata industri. Per triwulan tiga tahun 2018, laba bersih mencapai Rp 306,6 Miliar atau naik 24,3 persen dari bulan September tahun 2017 sebesar Rp 246,6 Miliar.

Cerminan pertumbuhan terlihat dari aset BNI Syariah pada triwulan 3 tahun 2018 yang mencapai Rp 38,9 triliun atau naik sebesar 21,5 persen year on year (yoy) dari triwulan 3 tahun 2017. Angka tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan industri sebesar 14,2 persen (data SPS per Agustus 2018 BUS-UUS).

Dari sisi bisnis, BNI Syariah telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 26,9 Triliun atau naik 19,3 persen yoy dengan kontribusi pembiayaan terbesar pada segmen Konsumer sebesar Rp 13,6 Triliun (50,8 persen) diikuti oleh segmen Komersial sebesar Rp 6,1 Triliun (22,5 persen), segmen Kecil dan Menengah Rp 5,8 Triliun (21,5 persen), segmen Mikro Rp 1,0 triliun (3,8 persen) dan Hasanah Card Rp 394 Miliar (1,5 persen).

 

Selain pembiayaan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 33,5 Triliun atau naik 21,4 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan industri sebesar 9,6 persen (data SPS per Agustus 2018 BUS-UUS) dengan jumlah nasabah sebesar 2,8 juta.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement