Kamis 29 Nov 2018 06:48 WIB

Dirut PLN: Tidak Semua Pembangkit Bisa Gunakan B20

Biaya pemakaian B20 akan lebih mahal jika diterapkan di pembangkit daerah 3T.

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Friska Yolanda
Menghitung untung-rugi pemakaian biodiesel.
Foto: Republika
Menghitung untung-rugi pemakaian biodiesel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir mengatakan tidak semua pembangkit listrik PLN bisa menggunakan bahan bakar biodiesel 20 persen atau B20. Pembangkit yang dimaksud adalah pembangkit yang terletak di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). 

"Akan jauh lebih mahal akhirnya. Biaya transportasinya dan lain sebagainya misalnya ke pulau-pulau terpencil di Indonesia timur, di NTT, dan di pedalaman Papua. Untuk membawa B20 ke sana sulit sekali, tidak efisien," kata Sofyan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Rabu (28/11).

Hal itu disampaikan Sofyan usai bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Dia menyebut, terdapat ratusan pembangkit yang berada di daerah 3T yang belum bisa menggunakan B20. Namun, menurutnya, secara volume daya tidak signifikan. Sofyan menilai, solusi untuk daerah tersebut adalah dengan menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT) lainnya. 

Dia menambahkan, saat ini daerah yang sudah banyak menggunakan B20 adalah Jawa dan Sumatra. Bahkan, di Sumatra, seluruh pembangkit bertenaga diesel milik PLN sudah menggunakan B20.

"Di Sumatra sumbernya banyak dan kalau kita pakai sekarang murah. Jadi justru kita kejar pakai B20," kata Sofyan.

Terkait dengan penambahan konsumsi B20 sebesar 700 ribu kilo liter pada 2019, Sofyan menilai hal itu masih realistis. Dia mengatakan, B20 akan digunakan pada pembangkit listrik tenaga gas yang menggunakan teknologi gas mesin.

"Bisa di situ karena itu sekitar 15 ribu megawatt," kata Sofyan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement