Rabu 17 Oct 2018 15:53 WIB

Investasi ke Sektor Pertanian Rendah

Angka investasi PMDN untuk pertanian pada 2017 sebesar Rp 22 triliun.

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Friska Yolanda
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) Muhammad Syakir, Bupati Kabupaten Bandung Dadang M Naser, dan Bupati Kabupaten Serang Ratu Tatu Chasanah menijau benih perkebunan di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), Sukabumi, Jawa Barat, Senin (24/9).
Foto: Republika/Rahayu Subekti
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) Muhammad Syakir, Bupati Kabupaten Bandung Dadang M Naser, dan Bupati Kabupaten Serang Ratu Tatu Chasanah menijau benih perkebunan di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), Sukabumi, Jawa Barat, Senin (24/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sektor pertanian belum menjadi sektor yang diminati sebagai tempat berinvestasi. Pada 2017 saja, investasi dalam negeri (PMDN) di sektor tanaman pangan dan perkebunan hanya 8,4 persen.

"Investasi sektor pertanian masih belum cukup menarik dibanding sektor lainnya," kata Direktur Corporate Affairs Asian Agri M Fadhil Hasan dalam diskusi bertema 'Kemudahan Investasi Sektor Pertanian' di Gedung PIA Kementerian Pertanian, Rabu (17/10). 

Angka investasi PMDN untuk pertanian pada 2017 sebesar Rp 22 triliun. Sektor yang utama dalam investasi PMDN ini adalah jasa (Rp 119,6 triliun) dan industri manufaktur (Rp 99,2 triliun). Untuk peternakan ada di angka Rp 0,8 triliun dan kehutanan sebesar Rp 0,03 triliun.

Begitu juga dengan investasi luar negeri yang hanya 4,3 persen atau 1,4 juta dolar AS untuk sektor tanaman pangan dan perkebunan. Khusus sektor peternakan sebesar 0,2 juta dolar AS atau 0,6 persen dan 0,2 persen atau 0,05 juta dolar AS untuk investasi di kehutanan. Lagi-lagi, sektor jasa dan industri manufaktur menjadi yang utama.

"Tanaman pangan, perkebunan, peternakan itu relatif masih rendah," katanya.

Meski demikian, sektor pertanian menyumbang lapangan pekerjaan cukup besar di tanah air. Hal tersebut diakui Fadhil tidak sejalan dengan rendahnya investasi di sektor tersebut. Biasanya, ia melanjutkan, tingginya investasi sejalan dengan tingginya penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut. 

"Investasi (di pertanian) itu ya dilaksanakan oleh masyarakatnya yang tidak tercatat, padahal besar sekali," katanya. Petani menjadi investor paling besar pada sektor ini, bukan perusahaan atau skala besar seperti di industri manufaktur maupun pertambangan.

Pemerintah berupaya menarik minat investor melalui Online Single Submission (OSS) maupun fasilitas tax holiday. Tingkat kemudahan berinvestasi Indonesia di Asia pun tercatat membaik, meski masih rendah dibanding negara sekawasan. 

Untuk diketahui, pada semester satu tahun ini, Singapura menjadi negara investor terbesar dengan 33,5 persen. Angka ini disusul Jepang (14,4 persen), Cina, Hong Kong dan Malaysia. Artinya, investor asing di Indonesia masih didominasi oleh negara Asia sendiri.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement