Selasa 02 Oct 2018 06:24 WIB

Harga Minyak Dunia Cetak Rekor Tertinggi Sejak 2014

Meroketnya harga ini sebagai respons akan diterapkannya sanksi AS terhadap Iran

Harga minyak dunia melonjak (ilustrasi)
Harga minyak dunia melonjak (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak melonjak lebih dari dua dolar AS per barel pada akhir perdagangan Senin (1/10) atau Selasa (2/10) pagi WIB. Lonjakan harga minyak dunia ini mencapai tingkat tertinggi sejak November 2014.

Meroketnya harga ini sebagai respons akan diterapkannya sanksi-sanksi AS terhadap Iran serta kesepakatan perdagangan Amerika Utara untuk mendorong pertumbuhan. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik 2,25 dolar AS atau 2,7 persen menjadi ditutup pada 84,98 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Dalam perdagangan pasca-penyelesaian, kontrak terus menguat, naik ke 85,45 dolar AS per barel, perdagangan pertama di atas 85 dolar AS sejak November 2014. Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember melonjak 2,05 dolar AS menjadi menetap di 75,30 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, tertinggi sejak November 2014.

Amerika Serikat dan Kanada mencapai kesepakatan pada Ahad (30/9) untuk menyelamatkan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA), sebuah perjanjian trilateral dengan Meksiko.

Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago, mengatakan kesepakatan NAFTA akan mengangkat harga minyak karena "meningkatkan prospek pertumbuhan tidak hanya untuk Kanada dan AS, tetapi juga untuk Amerika Utara secara keseluruhan."

Investor telah membeli banyak pada opsi yang memberikan pemegang hak untuk membeli Brent di 90 dolar AS pada akhir Oktober. Minat terbuka dalam call options pada 90 dolar AS telah meningkat hampir 12 ribu lot dalam seminggu terakhir menjadi 38 ribu lot, atau 38 juta barel.

Data bursa menunjukkan net long position gabungan para hedge funds dalam minyak mentah Brent dan minyak mentah AS serta opsi pada berada di posisi terbesar sejak akhir Juli, setara dengan sekitar 850 juta barel.

Harga minyak yang lebih tinggi dan dolar AS yang kuat bisa menekan pertumbuhan permintaan tahun depan, kata para analis. Untuk saat ini pasar fokus pada sanksi-sanksi AS terhadap Iran, yang mulai berlaku pada 4 November dan dirancang untuk memangkas ekspor minyak mentah dari produsen terbesar ketiga di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) itu.

"Iran telah berusaha untuk mengesampingkan dampak sanksi-sanksi AS yang kian dekat dengan mengklaim bahwa mereka tidak memiliki niat untuk mengurangi produksi minyak. Namun, klaim optimis seperti itu diabaikan," kata ahli strategi PVM Oil Associates, Stephen Brennock.

Beberapa pembeli besar di India dan Cina telah mengisyaratkan bahwa mereka akan memangkas pembelian minyak Iran. Perusahaan minyak asal Cina, Sinopec, mengatakan pihaknya mengurangi separuh pasokan minyak Iran pada September.

"Jika industri penyulingan Cina mematuhi sanksi AS, maka pasar kemungkinan akan semakin ketat," tulis analis Emirates NBD, Edward Bell dalam sebuah catatan.

Presiden AS Donald Trump berbicara kepada Raja Salman Saudi pada Sabtu (29/9) tentang upaya-upaya untuk menjaga kecukupan pasokan. "Sekalipun mereka (Arab Saudi) ingin mendistorsi keinginan Presiden Trump, berapa banyak kapasitas cadangan yang dimiliki kerajaan?" kata Stephen Innes, kepala perdagangan untuk Asia-Pasifik di broker berjangka Oanda di Singapura.

Dengan sekitar 1,5 juta barel per hari minyak Iran diperkirakan akan berkurang pada 4 November, harga bisa "meroket lebih tinggi dengan harga mencolok 100 dolar AS per barel, sebuah target yang masuk akal", katanya.

sumber : Antara/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement