Selasa 10 Mar 2026 14:08 WIB

Trump Sebut AS akan Longgarkan Sanksi Minyak untuk Tekan Harga

Langkah itu disebut terkait dampak konflik militer terhadap Iran.

Sekelompok burung terbang di atas proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Refinery Unit (RU) V Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). Presiden Prabowo Subianto meresmikan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan dengan total investasi setara Rp123 triliun yang dapat memungkinkan kilang tersebut mengelola hingga 360 ribu barel minyak per harinya.
Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Sekelompok burung terbang di atas proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Refinery Unit (RU) V Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). Presiden Prabowo Subianto meresmikan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan dengan total investasi setara Rp123 triliun yang dapat memungkinkan kilang tersebut mengelola hingga 360 ribu barel minyak per harinya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Senin (9/3/2026), mengatakan akan melonggarkan sanksi minyak terhadap beberapa negara untuk memanipulasi harga.

"Kami juga mencabut berbagai sanksi terkait minyak untuk menurunkan harganya. Jadi, kami memiliki sanksi di beberapa negara dan kami akan mencabut sanksi-sanksi tersebut sampai situasi membaik," kata Trump dalam konferensi pers.

Baca Juga

Trump menambahkan AS mungkin tidak akan memberlakukan sanksi tersebut setelah dicabut, karena perdamaian akan dipulihkan. Dia mengatakan bahwa harga minyak telah meningkat secara artifisial setelah dimulainya operasi militer terhadap Iran.

"Kami berupaya untuk menjaga harga minyak tetap rendah. Harga minyak naik secara artifisial karena upaya ini merupakan hal yang sangat positif. Maksud saya, ini adalah upaya yang tidak akan dilakukan banyak orang. Saya tahu harga minyak akan naik jika saya melakukan ini, dan mungkin kenaikannya lebih kecil dari yang saya perkirakan, tetapi saya rasa kita tidak akan berhasil secepat ini. Ini adalah keberhasilan militer," jelasnya.

Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk di Teheran, hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik AS di Timur Tengah.

AS dan Israel awalnya mengklaim serangan mereka diperlukan untuk melawan ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Namun, AS dan Israel segera memperjelas bahwa serangan itu dilakukan karena mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas pada hari pertama operasi militer AS dan Israel itu. Republik Islam Iran menyatakan 40 hari masa berkabung.

Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan pembunuhan Khamenei itu sebagai tindak pelanggaran sinis terhadap hukum internasional. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia mengutuk operasi AS-Israel itu dan menyerukan segera dilakukan deeskalasi dan penghentian permusuhan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement