REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai lonjakan harga minyak dunia membuat beban PT Pertamina (Persero) semakin berat jika tidak diikuti penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Saat ini harga minyak global telah menembus sekitar 111 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dipatok sekitar 70 dolar AS per barel.
Kondisi tersebut menimbulkan tekanan besar terhadap pengelolaan energi nasional. Selisih harga yang lebar antara asumsi APBN dan harga pasar berpotensi meningkatkan beban subsidi maupun kompensasi energi.
"Berat bagi Pertamina jika tidak ada penyesuaian harga atau penambahan pagu subsidi BBM tanpa menaikkan harga. Di lain pihak, ruang fiskal juga sempit. Pilihannya sangat sulit," kata Hadi kepada Republika.co.id, dikutip Senin (9/3/2026).
Menurut dia, lonjakan harga minyak dunia mendorong kenaikan biaya produksi energi. Kondisi tersebut pada akhirnya mempengaruhi harga berbagai produk turunan, termasuk BBM yang dipasarkan di dalam negeri.
Hadi menjelaskan, Pertamina beroperasi sebagai korporasi yang tetap harus menjaga kesehatan bisnisnya. Dalam praktik industri energi, kenaikan harga bahan baku biasanya akan diikuti penyesuaian harga produk.
"Pertamina adalah korporasi sehingga ketika bahan baku naik, otomatis produk juga harus naik. Fair business. Tinggal kenaikannya ini mau diserap di mana dan oleh siapa," ujar tokoh yang juga Dewan Penasihat Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) periode 2025–2028 itu.
Di tengah tekanan tersebut, menurut dia, pemerintah memiliki sejumlah opsi untuk menahan dampak kenaikan harga terhadap masyarakat. Salah satunya dengan menambah pagu subsidi energi melalui penyesuaian kebijakan fiskal.
Hadi memandang langkah tersebut dapat ditempuh dengan meninjau kembali postur APBN serta melakukan penataan ulang prioritas program belanja negara. “Cara yang tidak membebani masyarakat adalah opsi penambahan pagu subsidi, di mana pemerintah perlu revisit APBN. Menggunakan skala prioritas untuk memangkas, mengoptimalkan, dan mengefisienkan program,” ucapnya.
Ia menilai pemerintah juga perlu mempercepat langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui program konversi energi, termasuk konversi BBM ke gas serta percepatan penggunaan kendaraan listrik.
Dalam jangka panjang, peningkatan kegiatan eksplorasi sektor hulu minyak dan gas juga dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Penugasan lebih besar kepada Pertamina dalam kegiatan eksplorasi dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat pasokan energi dalam negeri.
View this post on Instagram