Kamis 26 Mar 2026 08:15 WIB

Selat Hormuz Terganggu, Negara-Negara Asia Hadapi Krisis Energi

Penutupan jalur minyak dunia membuat aktivitas ekonomi masyarakat terdampak.

Seorang pejalan kaki berjalan melewati pompa bensin di Tokyo, Jepang, 16 Maret 2026. Pada 16 Maret 2026, pemerintah Jepang mengumumkan mulai melepaskan cadangan minyaknya sebagai tanggapan atas blokade de facto di Selat Hormuz.
Foto: EPA/FRANCK ROBICHON
Seorang pejalan kaki berjalan melewati pompa bensin di Tokyo, Jepang, 16 Maret 2026. Pada 16 Maret 2026, pemerintah Jepang mengumumkan mulai melepaskan cadangan minyaknya sebagai tanggapan atas blokade de facto di Selat Hormuz.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Penutupan Selat Hormuz pascaserangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada akhir Februari telah menimbulkan guncangan di seluruh dunia. Harga minyak melonjak dan pasar saham bergejolak karena dunia menunggu kapan Iran akan mengizinkan jalur air utama tersebut dibuka kembali.

Saat ini, hanya segelintir kapal yang berhasil melewati selat setiap hari. Sementara itu, serangan terhadap infrastruktur energi di wilayah tersebut semakin mendorong harga lebih tinggi. Akibatnya tidak ada kawasan yang lebih merasakan dampaknya selain Asia. Hampir 90 persen minyak dan gas yang melewati selat tersebut menuju negara-negara Asia.

Baca Juga

Tekanan tersebut kini mulai terasa. Pemerintah di sejumlah negara telah memerintahkan karyawan untuk bekerja dari rumah, mengurangi jam kerja mingguan, menetapkan hari libur nasional, hingga meliburkan universitas lebih awal demi menghemat persediaan energi.

Perang mungkin terjadi ribuan kilometer jauhnya, tetapi masyarakat di seluruh Asia merasakan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Filipina

Pada Selasa (24/3/2026), Filipina menyatakan keadaan darurat nasional terkait konflik tersebut dan “bahaya yang mengancam ketersediaan serta stabilitas pasokan energi negara”.

Dampak perang yang berjarak lebih dari 7.000 km sangat terasa, terutama bagi para pengemudi jeepney, angkutan umum khas Filipina. Ini dialami salah satu pengemudi jeepney, Carlos Bragal Jr, ia mengaku mengalami penurunan pendapatan harian dari 1.000–1.200 peso (sekitar Rp 280 ribu-Rp 360 ribu per hari) untuk shift 12 jam menjadi hanya 200–500 peso (Rp 56 ribu – Rp 150 ribu).

Para pengemudi seperti dia sebelumnya sudah menghadapi berbagai tekanan, termasuk pajak cukai dan kebijakan tarif. Namun, lonjakan harga bahan bakar terbaru membuat sebagian tidak memperoleh penghasilan sama sekali.

“Saya menyekolahkan putri-putri saya dari pekerjaan ini. Satu baru lulus dan satu lagi segera lulus. Kami dulu hidup cukup baik, tetapi sekarang kami tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan,” kata Carlos dikutip dari laman BBC News.

Ia menambahkan, jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya akan sangat berat bagi keluarganya.

Tak hanya pengemudi, nelayan dan petani juga terdampak akibat tingginya biaya bahan bakar. Sejumlah petani sayur di Bulacan bahkan terpaksa menghentikan produksi. Pemerintah telah memberikan bantuan tunai, namun dinilai belum cukup.

“Subsidi bahan bakar dari pemerintah hanya cukup untuk dua hari. Lalu setelah itu bagaimana?” ujarnya. “Situasi sekarang lebih buruk daripada saat pandemi.”

photo
Para pengunjuk rasa yang menentang konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memegang papan tanda selama unjuk rasa di sebuah SPBU di Quezon City, Metro Manila, Filipina, 25 Maret 2026. - (EPA/ROLEX DELA PENA)

Thailand

Dalam hampir dua dekade sebagai presenter berita, Sirima Songklin selalu tampil dengan jas. Namun awal bulan ini, ia dan rekan-rekannya di stasiun penyiaran publik Thai PBS melepas jas saat siaran langsung sebagai simbol ajakan penghematan energi.

“Melepas jas bukan solusi utama, tetapi kami ingin menunjukkan kami tidak mengabaikan situasi. Kami memberi contoh,” kata Sirima.

Pemerintah Thailand juga mengimbau masyarakat mengatur suhu pendingin ruangan pada 26–27 derajat Celsius serta menerapkan kebijakan kerja dari rumah di instansi pemerintah.

Meski demikian, otoritas menegaskan ketersediaan energi masih mencukupi untuk beberapa jangka waktu ke depan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement