Senin 24 Sep 2018 17:53 WIB

Ini Kata Buwas Soal Kabar Gudang Bulog Dikomersilkan

Gudang untuk beras cadangan pemerintah masih ada yang mengalami kerusakan

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Pekerja menata karung-karung beras untuk rakyat miskin (raskin) di gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) Kelapa Gading, Jakarta.
Foto: Antara/Rosa Panggabean
Pekerja menata karung-karung beras untuk rakyat miskin (raskin) di gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) Kelapa Gading, Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Waseso menampik kabar yang menyebutkan gudang milik Bulog dikomersilkan. Menurutnya, gudang Bulog di mana pun tidak pernah dijadikan sebagai komoditas perdagangan untuk mencari keuntungan sendiri. Tapi, gudang tersebut dikerjasamakan dengan pihak swasta.

Pria yang akrab disapa Buwas ini menuturkan, saat ini gudang milik Bulog baru bisa diperuntukkan bagi komoditas beras. Sebab, komoditas lain seperti daging membutuhkan tempat penyimpanan yang memiliki kriteria khusus.

"Kalau disuruh simpan daging kan harus ada cold storage. Nah, cold storage itu yang harus kerja sama dengan swasta, karena kami tidak ada," tuturnya ketika ditemui di Kantor Kadin, Jakarta, Senin (24/9).

Tidak hanya daging, kerja sama Bulog dengan pihak swasta untuk gudang juga berlaku terhadap komoditas gula dan minyak. Apabila tidak kerja sama, Buwas cemas komoditas pangan produksi petani lokal justru tidak terkelola dengan baik dalam masa penyimpanan dan kualitas hasilnya kurang terjaga.

Menurut Buwas, mekanisme kerja sama ini sudah berjalan dan tidak menimbulkan masalah. Justru, yang menjadi permasalahan adalah jika gudang tersebut dibeli tapi tidak digunakan. Sebab, akan ada bunga komersial yang terus berkembang dikarenakan operasional terus berjalan.

Sementara itu, Buwas mengakui, gudang untuk penyimpanan beras cadangan milik pemerintah masih ada yang mengalami kerusakan. Tapi, jumlahnya di bawah 50 persen dari total yang ada, sehingga tidak terlalu memperihatinkan.

"Itu gudang di sentra produksi. Gudang di non sentra produksi juga ada yang rusak," ujarnya tanpa menyebutkan angka pasti.

Buwas juga menjelaskan tentang kondisi gudang Bulog yang kosong. Gudang tersebut diperuntukkan komoditas beras yang baru diserap dalam negeri. Lokasinya berada di beberapa titik termasuk Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Gudang tersebut dibedakan dari gudang yang dimanfaatkan sebagai penyimpanan cadangan beras pemerintah (CBP).

Gudang penyerapan sengaja dikosongkan untuk mengantisipasi masa panen, ketika Bulog harus menyerap beras dalam kuantitas besar. "Kalau dipenuhi juga sama beras impor, nanti kami tidak akan bisa serap (beras dari petani lokal) lagi," ucap Buwas yang sempat menjabat sebagai kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu.

Karena gudang untuk beras impor penuh, Bulog harus menyewa gudang milik TNI Angkatan Udara untuk menyimpan stok beras. Buwas juga mengatakan, impor beras yang diperintahkan oleh pemerintah tidak berbanding lurus dengan kondisi dan kuantitas jumlah gudang penyimpanan Bulog.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai, persoalan gudang Bulog yang sudah penuh dengan beras impor bukan urusan Kemendag. Apalagi, kebijakan impor sudah menjadi persetujuan dalam rapat terbatas yang turut menghadirkan Bulog, Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian.

"Nggak tahu saya, bukan urusan kami. Itu sudah diputuskan di Rakor Menko, urusan Bulog," ujar Enggar di kantor Kemenko Maritim, Jakarta, Selasa (18/9).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement