Ahad 09 Sep 2018 11:55 WIB

Rupiah Melemah, Produsen Naikkan Harga Pakan Ternak Ayam

Sekitar 65-70 persen harga pakan ternak ditentukan oleh nilai importasi bahan baku.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Andri Saubani
[ilustrasi] Pekerja memindahkan pakan ternak ayam ke atas kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (25/7).
Foto: Republika/ Wihdan
[ilustrasi] Pekerja memindahkan pakan ternak ayam ke atas kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (25/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Gabungan Perusahaan Pakan Ternak (GPMT) mengatakan, harga pakan ternak ayam pedaging dan petelur semakin terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Mau tidak mau, produsen menaikkan harga.

Dewan Penasihat GPMT Sudirman mengatakan, sekitar 65-70 persen harga pakan ternak ditentukan oleh nilai importasi bahan baku. Oleh karena itu, pergerakan kurs dolar AS sangat sensitif terhadap pembentukan harga pakan ternak di dalam negeri.

Saat ini, harga pakan untuk ayam pedaging sekitar Rp 7 ribu per kilogram (kg) dari posisi tiga bulan yang lalu sebesar Rp 6.500 per kg. Adapun, harga pakan untuk ayam telur sebesar Rp 6.800 per kg dari sebelumnya Rp 6 ribu per kg.

“Tinggi juga kenaikannya karena kurs rupiah melemah terus,” kata Sudirman kepada Republika.co.id, Ahad (9/9).

Hingga perdagangan akhir pekan lalu, Kurs Tengah Bank Indonesia mencatat rupiah diperdagangkan sebesar Rp 14.884 per dolar AS. Nilai tukar rupiah itu sedikit menguat dibanding hari Kamis (6/9) sebesar RP 14.891 per dolar AS.

Sudirman mengatakan, mayoritas perusahaan mengimpor bahan baku pakan ternak sebulan sekali. Oleh karena itu, setiap harga pakan akan seirama dengan fluktuasi mata uang rupiah. Adapun bahan baku yang paling banyak diimpor adalah bungkil kedelai dan meat and bone meal (MBM).

“Bungkil kedelai itu sekitar 4,37 juta ton per tahun, sedangkan MBM sekitar 450 ribu ton per tahun. Sisanya sedikit-sedikit yang diimpor tapi kalau diakumulasikan banyak juga,” tuturnya.

Meski demikian, Sudirman mengakui kenaikan harga yang ditempuh itu turut mempertahankan margin (keuntungan). Kenaikan harga sebesar Rp 1.000 per kg untuk ayam pedaging dan Rp 800 untuk ayam petelur tetap menggerus margin penjualan antara 3-4 persen.

“Apakah kenaikan itu sesuai? Tidak juga. Pabrik pakan tetap mengorbankan margin,” kata Sudirman.

Ia mengatakan, perusahaan masih berupaya menekan kenaikan harga karena persaingan perusahaan pakan ternak di Indonesia semakin ketat. Dari tahun ke tahun, jumlah perusahaan pakan ternak terus meningkat. Tercatat untuk perushaaan skala besar ada sekitar 90 perusahaan. Adapun industri pakan ternak rumahan mencapai ratusan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement