Kamis 23 Aug 2018 09:01 WIB

Harga Minyak Meningkat Didorong Penarikan Besar AS

Minyak juga mendapat dukungan dari dolar AS yang lebih lemah.

Ilustrasi kilang minyak
Foto: AP Photo/J David Ake
Ilustrasi kilang minyak

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak naik sekitar tiga persen pada akhir perdagangan Rabu (22/8) waktu setempat. Harga minyak mentah Brent mencapai tertinggi tiga pekan setelah data pemerintah AS menunjukkan penarikan yang lebih besar dari perkiraan dalam persediaan minyak mentahnya. Kenaikan garga ini juga karena sanksi Washington terhadap Iran mengisyaratkan pengetatan pasokan.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober naik 2,15 dolar AS atau 2,96 persen, menjadi menetap di 74,78 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Patokan global ini mencapai 75,00 dolar AS selama sesi, tingkat tertinggi sejak 31 Juli.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Oktober naik 2,02 dolar AS atau 3,07 persen menjadi ditutup pada 67,86 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Persediaan minyak mentah AS turun 5,8 juta barel pekan lalu, kata Badan Informasi Energi AS (EIA). Kilang minyak mentah AS rata-rata memasukkan 17,89 juta barel per hari selama pekan yang berakhir 17 Agustus. Jumlah ini 89 ribu barel per hari lebih rendah dari rata-rata pekan sebelumnya, tetapi masih 431 ribu barel per hari lebih tinggi dari tingkat pada minggu yang sama tahun lalu.

Selama empat pekan terakhir, input kilang rata-rata mencapai 17,73 juta barel per hari. Jumlah ini 1,3 persen lebih tinggi dari periode empat pekan yang sama tahun lalu. Tingkat pemanfaatan kilang tetap tidak berubah minggu lalu di 98,1 persen dari total kapasitas, tingkat tertinggi sejak 1999.

"Kontribusi kuat terhadap penarikan besar minyak mentah itu adalah karena sekitar separuh dari penurunan diimbangi oleh penambahan stok gabungan bensin dan distilasi," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates, dalam sebuah catatan.

Minyak juga mendapat dukungan dari dolar AS yang lebih lemah. Nilai tukar tersebut tergelincir pekan ini sebagai tanggapan atas komentar Presiden AS Donald Trump bahwa dia "tidak senang" oleh kenaikan suku bunga Federal Reserve. Melemahnya dolar membuat minyak lebih murah untuk pembeli yang menggunakan mata uang lainnya.

Harga minyak juga mendapat dukungan dari prospek penurunan ekspor minyak mentah Iran sebagai tanggapan terhadap sanksi baru AS terhadap produsen terbesar ketiga di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Sanksi-sanksi AS memiliki efek yang kuat pada ekonomi Iran, kata Penasihat Keamanan Nasional John Bolton pada Rabu (22/8).

Perusahaan-perusahaan minyak Eropa telah mulai mengurangi pembelian dari Iran, meskipun pembeli Cina mengalihkan kargo mereka ke kapal milik Iran untuk menjaga pasokan tetap mengalir. "Masalah Iran terus menghuni pikiran para pedagang," kata Greg McKenna, kepala strategi pasar di broker berjangka AxiTrader.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement