Kamis 11 Jun 2026 09:43 WIB

Dibuka Melemah, IHSG Diprediksi Bergerak Volatil

IHSG dibuka melemah 3,11 poin atau 0,05 persen ke posisi 5.899,27.

Warga mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 245 poin atau 4,20 persen ke level 5.595, hal tersebut memperpanjang tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Warga mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 245 poin atau 4,20 persen ke level 5.595, hal tersebut memperpanjang tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (11/6/2026) berpotensi bergerak volatil seiring peningkatan tensi di kawasan Timur Tengah. IHSG dibuka melemah 3,11 poin atau 0,05 persen ke posisi 5.899,27. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,83 poin atau 0,14 persen ke posisi 590,31.

"Sentimen pasar tetap didominasi perkembangan di Timur Tengah, setelah CENTCOM mengumumkan gelombang baru serangan terhadap Iran atas instruksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata, dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Baca Juga

Dari mancanegara, Trump kembali memperingatkan bahwa Iran akan "membayar harga", apabila terus menunda kesepakatan damai, sementara Iran menegaskan akan membalas setiap ancaman maupun serangan yang diterimanya.

Konflik yang memasuki bulan keempat, kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Ketidakpastian tetap tinggi karena Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia masih menjadi titik utama risiko energi global.

Selain itu, Trump mengklaim AS telah menjalankan "misi rahasia" untuk membantu lebih dari 200 kapal komersial melewati Selat Hormuz dan mengalirkan lebih dari 100 juta barel minyak ke pasar global.

Namun demikian, klaim tersebut dibantah oleh Menteri Energi AS Chris Wright, yang mengaku tidak mengetahui operasi tersebut.

sumber : ANTARA
Berita Lainnya

Rekomendasi