Selasa 14 Aug 2018 18:07 WIB

Kadin Khawatirkan Gejolak di Turki Berimbas ke Rupiah

Tren pelemahan kurs rupiah membuat pelaku usaha memikirkan potensi biaya dana naik.

Red: Nur Aini
Turis menukarkan uang ke money changer di Istanbul, Turki, Senin (13/8). Merosotnya nilai mata ulang Lira Turki membuat turis asing menikmati lonjakan dolar yang dipegangnya.
Foto: AP
Turis menukarkan uang ke money changer di Istanbul, Turki, Senin (13/8). Merosotnya nilai mata ulang Lira Turki membuat turis asing menikmati lonjakan dolar yang dipegangnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Krisis ekonomi akibat gejolak pasar keuangan yang terjadi di Turki dikhawatirkan turut menekan rupiah.

"Memang terjadi tekanan dalam mata uang kita sehingga sempat menyentuh Rp 14.600 lebih sedikit," kata Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (14/8).

Ia menilai tren pelemahan nilai tukar rupiah dapat membuat para pelaku usaha memikirkan potensi peningkatan biaya dana (cost of fund). Rosan juga mengatakan fluktuasi nilai tukar mata uang dapat memengaruhi pelaku usaha dalam memprediksi neraca keuangan mereka ke depan.

Ketidakpastian ekonomi global termasuk kondisi terakhir yang terjadi di Turki menyebabkan penurunan mata uang lira. Kurs lira jatuh lebih dari 40 persen sejak awal 2018 menyusul kekhawatiran peningkatan kontrol ekonomi oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan serta memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat.

Krisis ekonomi yang terjadi di Turki juga dikhawatirkan berdampak buruk terhadap capaian realisasi investasi di Indonesia pada semester II-2018. Hal itu menyusul gejolak mata uang di negara-negara berkembang.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menjelaskan pengaruh krisis di Turki melalui pasar uang dan pasar modal menyebabkan investor menarik kembali investasi mereka di negara berkembang.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan kondisi perekonomian Indonesia berbeda dengan kondisi di Turki yang saat ini nilai tukar mata uangnya anjlok. Menurut dia, sejumlah indikator menunjukan kondisi perekonomian Indonesia yang cukup positif dan inflasi yang stabil.

"Juga dari sisi APBN dalam kondisi yang cukup baik outlook defisit turun mendekati dua persen dan tahun depan defisit turun lagi di bawah dua persen," kata dia di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (14/8).

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement