Kamis 19 Jul 2018 18:55 WIB

Harga Melonjak, Mentan: Disparitas Telur Hingga 60 Persen

Mentan meminta pedagang tidak mengambil untung banyak.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kanan) didampingi Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi (kedua kiri) memeriksa telur ayam yang akan didistribusikan untuk operasi pasar di Toko Tani Indonesia Centre, Jakarta Selatan, Kamis (19/7).
Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kanan) didampingi Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi (kedua kiri) memeriksa telur ayam yang akan didistribusikan untuk operasi pasar di Toko Tani Indonesia Centre, Jakarta Selatan, Kamis (19/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui adanya disparitas harga telur ayam ras di tingkat peternak dan konsumen. Disparitas itu mencapai 60 persen sehingga mengakibatkan harga telur melambung terutama dalam sepekan terakhir.

Dalam Operasi Pasar Telur Murah di Toko Tani Indonesia Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (19/7), Menteri Amran melaporkan harga telur di Jabodetabek memang sudah perlahan turun meskipun perbedaannya masih berkisar 40-60 persen.

"Kami dengar laporan, harga di tingkat konsumen sudah turun. Memang disparitasnya 60 persen. Tolong para pedagang jangan ambil untung banyak," kata Amran.

Baca juga, Pembeli Mulai Kurangi Konsumsi Telur Ayam.

Ia menjelaskan, perbandingan harga yang jauh tersebut salah satunya karena rantai pasok yang panjang dari tingkat peternak, warung pengecer hingga konsumen. Selain itu, para pedagang diduga mengambil keuntungan yang tinggi sehingga harga di tingkat konsumen menjadi mahal.

Dalam Permendag 27/2017, harga acuan telur ayam di tingkat peternak sebesar Rp 18 ribu per kg, sedangkan di tingkat konsumen Rp 22 ribu per kg.

Menurut Amran, masalah panjangnya rantai pasok tidak hanya terjadi pada telur ayam, melainkan juga pada komoditas lain, salah satunya bawang merah. Oleh karena itu, ia mengharapkan seluruh pihak baik asosiasi, pengusaha dan pedagang untuk menata agar rantai pasok bisa lebih singkat.

"Ini yang harus kita tata, bukan telur saja, bawang merah di lapangan biasanya Rp12 ribu sampai Rp13 ribu, tapi di konsumen Rp36 ribu, berarti naik 200-300 persen. Bukan tugas kementerian saja, tetapi tugas kita semua," ungkapnya.

Adapun untuk menekan tingginya harga telur ayam sejak sepekan terakhir berkisar pada Rp25.000 sampai Rp30.000 per kg, Kementerian Pertanian menggelar operasi pasar telum ayam murah dengan harga Rp19.500 per kg.

Sebanyak 100 ton telur ayam dari operasi pasar ini akan disebar ke 50 titik meliputi Toko Tani Indonesia (TTI) Center, 43 pasar dan 6 perumahan atau kelurahan se-Jabodetabek. Kementan menyiapkan 100 ton telur ayam tersebut dari peternak Jawa Barat, Jawa Tengah dan Banten.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement