REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Sejumlah analis menilai harga minyak dunia berpotensi melonjak tajam jika gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah semakin meluas.
Pernyataan tersebut muncul setelah pejabat militer Iran memperingatkan bahwa harga minyak bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel apabila konflik terus berlanjut.
Ancaman itu disampaikan oleh juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, yang menyatakan stabilitas harga energi sangat bergantung pada keamanan kawasan Timur Tengah.
“Bersiaplah harga minyak mencapai 200 dolar per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan kawasan yang telah Anda destabilkan,” kata Zolfaqari kepada media pemerintah Iran.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 yang memicu konflik lebih luas di kawasan tersebut.
Selat Hormuz Jadi Kunci
Dilansir Euronews, Jumat (13/3/2026), analis energi menilai ancaman Iran berfokus pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Dengan posisi geografis yang strategis, Iran dinilai memiliki kemampuan untuk mengganggu lalu lintas energi global jika konflik semakin intensif.
Sejumlah laporan juga menyebutkan kapal-kapal dari negara netral, termasuk yang berbendera Jepang, Thailand, dan Kepulauan Marshall, menjadi sasaran gangguan dalam beberapa waktu terakhir.
Langkah tersebut dinilai sebagai strategi Iran untuk meningkatkan tekanan ekonomi global sehingga negara-negara Barat terdorong menghentikan serangan militer terhadap Iran.