Rabu 20 Jun 2018 11:59 WIB

Mata Uang Negara Berkembang Terpukul Penguatan Dolar AS

Kenaikan suku bunga AS memicu kekhawatiran arus keluar modal dari negara berkembang

Rep: Binti Sholikah/ Red: Nidia Zuraya
Dolar AS
Foto: M Syakir/Republika
Dolar AS

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga, menyatakan seluruh mata uang pasar berkembang terpukul telak oleh Dolar AS yang menguat secara umum. Dia mengatakan, situasi perdagangan yang semakin tegang antara Amerika Serikat dan Cina menambah kegelisahan pasar dan memperburuk situasi untuk pasar berkembang.

Prospek kenaikan suku bunga AS dapat memicu kekhawatiran mengenai arus keluar modal dari pasar berkembang, namun masalah perdagangan global juga menjadi risiko besar. Ketegangan perdagangan dapat menimbulkan kekhawatiran pada memburuknya proteksionisme global yang berdampak negatif pada pertumbuhan pasar berkembang.

"Karena itu, mata uang dan saham pasar berkembang dapat semakin melemah," ujar Lukman melalui siaran pers, Rabu (20/6).

Dia menambahkan, nilai tukar rupiah terancam terus melemah pekan ini karena masalah perdagangan menggerus selera pada mata uang berisiko. Pasar akan memantau apakah apresiasi dolar AS membuat rupiah bergerak menuju Rp 13.950 per dolar AS.

"Rupiah berpotensi melemah pekan ini apabila dolar AS terus menguat dan sentimen risiko memburuk karena situasi perdagangan global," kata Lukman.

Ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif baru terhadap Cina membuat pasar finansial bergejolak dan investor pun waspada. Trump membuat perkembangan mengejutkan dengan menyampaikan rencananya untuk memberlakukan tarif pada barang Cina senilai 200 miliar dolar AS lagi.

Tindakan yang tak diharapkan tersebut dapat memperburuk hubungan perdagangan AS-Cina dan memicu kekhawatiran terjadinya perang perdagangan global.

Ketegangan antara dua negara adidaya tersebut membuat pasar berhati-hati. Saham global melemah karena kondisi tersebut.

Perang perdagangan yang saling balasancam dan semakin memburuk tersebut dinilai sangat mengancam stabilitas internasional. "Oleh sebab itu, investor mungkin akan melepas aset berisiko dan beralih pada investasi safe haven," imbuhnya.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di Bank Indonesia, nilai tukar rupiah ditetapkan sebesar Rp 13.902 per dolar AS pada Rabu (20/6), level yang sama pada hari terakhir sebelum libur Lebaran pada Jumat (8/6).

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada pembukaan perdana pascalibur Lebaran, Rabu (20/6). IHSG dibuka di level 5.941,79 melemah 51,83 poin atau 0,86 persen.

Pada pukul 11.05, IHSG semakin terpuruk di level 5.841,51. Pergerakan indeks saham LQ45 yang beranggotakan 45 saham di BEI juga terpantau melemah. Pada pembukaan perdagangan, indeks saham LQ45 berada di posisi 937,61 melemah 13,08 poin atau 1,38 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement