Selasa 17 Apr 2018 07:56 WIB

Utang Luar Negeri Indonesia Mencapai 373,5 Miliar dolar AS

Jumlah posisi utang melambat dibanding Januari.

Rep: Binti Sholikah/ Red: Teguh Firmansyah
Layar monitor menunjukan pergerakan grafik surat utang negara di Delaing Room Treasury (ilustrasi).
Foto: Republika/Wihdan
Layar monitor menunjukan pergerakan grafik surat utang negara di Delaing Room Treasury (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir Februari 2018 tercatat sebesar 356,2 miliar dolar AS. ULN tersebut lebih rendah dibandingkan posisi akhir Januari 2018 yang tercatat sebesar 357,5 miliar dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman, mengatakan, ULN pada akhir Februari 2018 tersebut terdiri atas utang pemerintah dan bank sentral sebesar 181,4 miliar dolar AS, serta utang swasta sebesar 174,8 miliar dolar AS.

"ULN Indonesia per akhir Februari 2018 tersebut tumbuh sebesar 9,5 persen (yoy), melambat dibanding bulan sebelumnya sebesar 10,4 persen (yoy), disebabkan oleh melambatnya ULN, baik sektor pemerintah maupun sektor swasta," katanya seperti dirilis dari website resmi Bank Indonesia, Senin (16/4).

 

Baca juga, Kenaikan Jumlah Utang Indonesia ke Cina dari Tahun ke Tahun.

 

Agusman menjelaskan, pengelolaan ULN pemerintah sejalan dengan kebijakan fiskal untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kegiatan produktif dan investasi. Hingga akhir Februari 2018, ULN pemerintah tercatat sebesar 177,9 miliar dolar AS. ULN pemerintah terdiri atas surat berharga negara (SUN dan SBSN/Sukuk Negara) yang dimiliki oleh nonresiden sebesar 121,5 miliar dolar AS dan pinjaman kreditur asing sebesar 56,3 miliar dolar AS.

ULN pemerintah pada akhir Februari 2018 tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, terutama disebabkan oleh penurunan kepemilikan asing pada SBN domestik sebesar 3,0 miliar dolar AS.

Sementara itu, biaya ULN pemerintah makin rendah seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor terhadap Indonesia. Hal itu didukung oleh membaiknya fundamental perekonomian dan peringkat utang Indonesia.

"Pemanfaatan ULN pemerintah diprioritaskan untuk kegiatan yang sifatnya produktif dan merupakan investasi dalam rangka menunjang pertumbuhan ekonomi, termasuk memperkuat kemampuan membayar ULN tersebut," katanya.

ULN swasta tumbuh melambat, terutama dipengaruhi oleh ULN sektor keuangan. Secara tahunan, pertumbuhan ULN sektor keuangan tercatat 5,1 persen (yoy) pada Februari 2018, melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 6,7 persen.

Sementara itu, pertumbuhan ULN sektor industri pengolahan, sektor LGA, dan sektor pertambangan meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pangsa ULN sektor keuangan, industri pengolahan, listrik, gas, dan air bersih (LGA), serta pertambangan terhadap total ULN swasta mencapai 72,2 persen, relatif sama dengan pangsa pada periode sebelumnya.

Bank Indonesia menilai perkembangan ULN total pada Februari 2018 tetap terkendali dengan struktur yang sehat. Hal itu tecermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir Februari 2018 yang tercatat stabil di kisaran 34 persen. "Rasio tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan rata-rata negara peers," ungkap Agusman.

Berdasarkan jangka waktu, struktur ULN Indonesia pada akhir Februari 2018 tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 85,5 persen dari total ULN. Bank Indonesia berkoordinasi dengan pemerintah terus memantau perkembangan ULN dari waktu ke waktu untuk mengoptimalkan peran ULN dalam mendukung pembiayaan pembangunan, tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement