Kamis 15 Feb 2018 00:19 WIB

Kesadaran Berasuransi di Yogyakarta Masih Minim

Saat ini hanya delapan persen dari total warga DIY yang menjadi nasabah asuransi.

Rep: Eric Iskandarsjah Z/ Red: Gita Amanda
Ilustrasi Asuransi Jiwa
Foto: pixabay
Ilustrasi Asuransi Jiwa

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu provinsi yang cukup rawan bencana. Mulai dari erupsi Gunung Merapi, gempa bumi maupun tanah longsor. Meski demikian, hingga saat ini, kesadaran masyarakat untuk menjadi nasabah asuransi masih terbilang minim.

Praktisi asuransi jiwa di Yogyakarta, Agus Swijono, mengatakan memang hingga saat ini jumlah nasabah asuransi di Indonesia pun juga masih minim, termasuk di DIY. "Dari total populasi DIY, hingga saat ini hanya delapan persen yang sadar untuk menjadi nasabah asuransi," ujarnya, Rabu (14/2).

Padahal, lanjutnya, asuransi jiwa selain dapat menjadi bantuan finansial saat mengalami sakit atau terkena bencana, juga dapat menjadi salah satu instrumen investasi jangka panjang. Pembayaran premi asuransi menurutnya bukanlah sebuah pengeluaran, tapi justru itu merupakan sebuah investasi.

"Pemahaman tentang hal inilah yang belum banyak dimengerti oleh sebagian besar masyarakat," kata pria yang saat ini menjabat sebagai Principal Kantor Agen Zurich Topas Life Yogyakarta.

Sedangkan menurut Chief Strategy and Operating Officer Zurich Topas Life, Sutikno Sjarif, jumlah nasabah asuransi jiwa di Indonesia termasuk jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Hingga saat ini nasabah asuransi jiwa di Indonesia hanya sekitar 11 persen dari total populasi. Sementara itu, nasabah asuransi di Jepang angkanya mencapai 300 persen, yang artinya setiap warga Jepang memiliki tiga polis asuransi.

Sedangkan Amerika Serikat (AS) 100 persen warganya juga telah menjadi nasabah asuransi, Singapura 80 persen dan Malaysia 40 persen.

Ia menilai, fakta itu merupakan kesempatan sekaligus tantangan bagi praktisi asuransi di Indonesia. Menurutnya, masih minimnya jumlah nasabah di Indonesia disebabkan oleh adanya keterbatasan informasi mengenai manfaat asuransi.

Oleh karena itu kita memerlukan langkah-langkah untuk memberikan edukasi melalui literasi keuangan dan asuransi, ujarnya. Selain itu, lanjut dia, faktor lain terkait minimnya nasabah asuransi adalah karena masih rendahnya pendapatan per kapita di Indonesia.

Sebab, ia menilai, pendapatan per kapita berbanding lurus dengan kesempatan seseorang untuk menyisihkan pendapatannya dalam mengalokasikan premi asuransi. Sedangkan terkait masih minimnya pemahaman masyarakat tentang asuransi, Zurich saat ini juga terus melakukan upaya literasi keuangan dan asuransi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement