Senin 22 Jan 2018 18:18 WIB

PT PAL Tergetkan Produksi Kapal Rudal

Kapal rudal untuk keperluan alutsista TNI AL.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini
Direktur Pembangunan Kapal Perang dan Niaga PT PAL Indonesia (Persero) Turitan Indaryo (kanan) bersama Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda TNI Leonardi (kiri) meninjau pembuatan Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR-60M) di Bengk
Foto: Antara/Moch Asim
Direktur Pembangunan Kapal Perang dan Niaga PT PAL Indonesia (Persero) Turitan Indaryo (kanan) bersama Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda TNI Leonardi (kiri) meninjau pembuatan Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR-60M) di Bengk

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- PT PAL Indonesia (Persero) menargetkan produksi empat kapal cepat rudal (KCR) pada 2018 untuk keperluan alutsista TNI AL. Kemudian, PT PAL Indonesia juga menargetkan produksi kapal perusak kawal rudal (PKR) dan landing perform deck (LPD).

"Target kami untuk tahun ini ada 4 kapal cepat rudal (KCR) yang 60 meter dari TNI AL, kemudian tentu juga beberapa proyek-proyek pelayanan perbaikan yang rutin dari TNI AL dan non-TNI AL," ujar Budiman ketika ditemui di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin (22/1).

Selain itu, PT PAL Indonesia berencana memperluas pasar ekspor ke Asia Tenggara dan Afrika. Budiman mengatakan, pada 2018 PT PAL menargetkan kontrak baru sebesar Rp 4 triliun. Sementara, kontrak dari tahun sebelumnya (carry over contract) 2017 ke 2018 masih ada Rp 3 triliun. "Jadi book order value-nya lumayan tinggi yakni sekitar Rp 7 triliun," kata Budiman.

Budiman mengakui, pada 2016 PT PAL Indonesia mengalami masa sulit. Pada 2017, terjadi pertumbuhan penjualan sekitar dua kali lipat. Budiman menyebut, pada 2017 PT PAL telah membukukan pendapatan sebesar Rp 1,2 triliun. Adapun pada 2018, PT PAL menargetkan pendapatan senilai Rp 2,4 triliun.

Sementara itu, utilisasi PT PAL pada 2017 cukup rendah yakni sekitar 28-29 persen. Namun, pada 2018, Budiman optimistis utilisasi dapat meningkat hingga 60-70 persen seiring dengan meningkatnya permintaan kapal dari dalam negeri maupun luar negeri. "Kita bisa cari-cari order luar negeri, namun mayoritas (order) masih dari dalam negeri," ujar Budiman.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement