Jumat 05 Jan 2018 05:25 WIB

Tarif Tol Soroja Dinilai Terlalu Murah

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Andi Nur Aminah
Pengendara Mobil antusias menggunakan tol Soreang-Pasirkoja (Soroja), Selasa (5/12). Hingga pukul 10.00 WIB total dari dua jalur sudah mencapai 700 kendaraan yang melintas.
Foto: Republika/Fauzi Ridwan
Pengendara Mobil antusias menggunakan tol Soreang-Pasirkoja (Soroja), Selasa (5/12). Hingga pukul 10.00 WIB total dari dua jalur sudah mencapai 700 kendaraan yang melintas.

REPUBLIKA.CO.ID, SOREANG -- Pengelola Tol Soreang-Pasirkoja (Soroja), PT Citra Marga Lintas Jabar (CMLJ) mengungkapkan tarif tol yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui kementerian saat ini masih tergolong murah. Sehingga, seharusnya tarif tol bisa dinaikan.

Hal ini menanggapi banyak keluhan soal tarif tol yang dianggap mahal. "Menurut saya pengguna jalan tol masih diuntungkan (dengan tarif tol sekarang, Red)," ujar Dirut CMLJ, Bagus Medi, Kamis (4/1).

Dia mengatakan, perbandingan sebelum adanya jalan tol, pengguna kendaraan bisa menghabiskan 10 liter bensin Pertamax atau Premium senilai kurang lebih Rp 65 ribu melalui jalur arteri arah Pasirkoja menuju Soreang. Menurutnya, dengan adanya tol Soroja, selain menghemat waktu, kendaraan golongan satu arah Pasirkoja menuju Soreang relatif membayar tarif tol cukup murah sebesar Rp 7.000. Hal itu berbanding jauh dengan angka kurang lebih Rp 65 ribu melalui jalur arteri.

Ia menuturkan, dari sudut pandang sebagai investor, masyarakat juga harus tahu jika dirinya membangun tol mencapai Rp 1,7 triliun dengan trafik Rp 23 ribu per hari. Termasuk pinjaman bank dengan bunga 11 persen. "Setelah nanti ada break event point, Rp 7.000 itu masih kurang karena saya pinjam dari bank syariah," ungkapnya.

Selain itu, kemampuan masyarakat membayar di gerbang tol Margaasih atau Soreang itu di atas Rp 7.000. "Yang menentukan tarif pemerintah pusat. Mereka yang lebih tahu kenapa Rp 7.000 walaupun keinginan saya lebih. Lalau enggak naik bisa rugi. Angka yang minim buat saya harusnya Rp 8.000 (golongan I). Saya kaget, tapi ya sudah, saya terima saja. Ini keputusan pemerintah," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement