Rabu 29 Nov 2017 08:44 WIB

Investasi Asing ke Myanmar Abaikan Krisis Kemanusiaan

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Nur Aini
 Ribuan pengungsi muslim Rohingya yang mealrikan diri dari Myanmar, tertahan di perbatasan di Palong Khali, Bangladesh, Selasa (17/10).
Foto: AP/Dar Yasin
Ribuan pengungsi muslim Rohingya yang mealrikan diri dari Myanmar, tertahan di perbatasan di Palong Khali, Bangladesh, Selasa (17/10).

REPUBLIKA.CO.ID,NAYPYIDAW -- Bila AS dan Eropa geram dengan krisis kemanusiaan di Myamnar, investasi dari pengusaha Asia masih lancar mengalir ke sana.

Toyo-Thai Corporation Public Company Limited (TTCL) Thailand berinvestasi 3 miliar dolar AS untuk membangun pembangkit energi di negara bagian Kayin, Myanmar yang berbatasan dengan Thailand. ''Kami sadar kondisi Myanmar. Tapi beberapa lembaga dari Thailand dan lembaga kredit ekspor masih ingin di sana,'' kata Direktur Keuangan TTCL, Gobchai Tanasugarn seperti dikutip Bloomberg, Selasa (28/11).

Di sektor energi, Gobchai melihat potensi investasinya besar di Myanmar karena negeri pimpinan Aung San Suu Kyi itu kekurangan pasokan energi. Proyek pembangkit TTCL sendiri masih menunggu restu Menteri Kelistrikan Myanmar untuk bisa berjalan.

Berdasarkan statistik pemerintah Myanmar, investasi Cina masih yang tertinggi di Myanmar sejak 2010 dengan nilai 18,1 miliar dolar AS. Selama April-Oktober 2017 saja, investasi Cina mencapai 841,5 juta dolar AS. Sementara Uni Eropa hanya 3,9 miliar dolar AS dan investasi AS hanya 133 juta dolar AS.

Selain mengucurkan dana, Cina juga aktif mendorong agar Myanmar dan Bangladesh mencari solusi krisis. Aung San Suu Kyi dijadwalkan akan bertemu petinggi Partai Komunis Cina pada akhir November ini.

Guru Besar Lee Kuan Yew School of Public Policy National University of Singapore, Francesco Mancini, mengatakan, Cina punya pola investasi sendiri dibanding Eropa. Di manapun Cina berinvestasi, mereka melakukan mediasi politik, termasuk Myamnar. ''Barat tidak mengerti bagaimana menangani Myanmar dan mereka hanya mengecam,'' kata Mancini.

Meski krisis Myanmar bisa saja berdampak pada sentimen investor, sejauh ini dampak krisis nampak bersifat lokal. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi Myanmar akan mencapai 6,7 persen antara 2017-2018.

Analis kawasan Asia Pasifik dari Control Risk, Steve Wilford menyatakan, investasi etis dan komersial adalah hal yang sama jika investor punya kepentingan menjaga reputasinya, baik itu investor Asia atau yang lain. Dua perusahaan yang mereka ulas risiko reputasi bisnisnya di Myanmar adalah perusahaan-perusahaan dari Malaysia dan Arab Saudi.

Terlepas dari kondisi saat ini, Myanmar masih menawarkan potensi pertumbuhan bagi investasi asing. Anak usaha Thai Beverage Pcl bahkan berani mengambil 75 persen saham produsen wiski terkenal Myamnar senilai 742 miliar dolar AS, Basic Energy Corp Filipina juga menyatakan tertarik untuk membentuk perusahaan patungan di Myanmar, begitu pula Kajima Corp Jepang yang berinvestasi di Yangon, Myanmar.

Menurut CEO Myanmar Strategic Holdings Ltd., Enrico Cesenni, kunci investasi di Myanmar adalah komitmen. Seperti negara-negara ekonomi berkembang lain, Myanmar juga mengalami guncangan. ''Investor harus melihat prospek jangka panjang untuk menggali nilai di baliknya,'' kata Cesenni.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement