Jumat 17 Nov 2017 16:03 WIB

Indigo.id Presentasikan Konsep Inkubasi Startup di IEEE

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Managing Director Indigo.id Ery Punta Hendraswara (ketiga kiri) berpose bersama setelah mengisi sesi IEEE Region 10 Flagship Conference di Penang, Malaysia, akhir pekan lalu.
Foto: Dok. Istimewa
Managing Director Indigo.id Ery Punta Hendraswara (ketiga kiri) berpose bersama setelah mengisi sesi IEEE Region 10 Flagship Conference di Penang, Malaysia, akhir pekan lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Indigo.id melakukan sejumlah inisiatif strategis untuk semakin mengikis jarak antara industri dengan perguruan tinggi. Inisiatif itu di antaranya memberikan sarana magang, sharing knowledge, hingga sinergi seminar akademik teknologi kekinian.

Hal tersebut, diungkapkan oleh Managing Director Indigo.id, Ery Punta Hendraswara, saat menjadi pembicara bersama Karen Bartleson, President and CEOInstitute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). Mereka sepanggung dalam sesi diskusi panel dalam IEEE Region 10 Flagship Conference (TENCON 2017) di St Giles Premier Hotel, Penang, Malaysia, belum lama ini.

Menurut Ery, medium berbagi pengetahuan dilakukan dengan membuka laboratorium digital start up miliknya. Di antaranya, Telkom Digital Valley dan Telkom Digital Innovation Lab, untuk terbuka dikunjungi berbagai perguruan tinggi di tanah air.

Bahkan, menurut Ery, di beberapa kampus ternama, seperti di Universitas Padjadjaran kampus Bandung, juga sejak lama mengoperasikan bersama pusat kreativitas digital bagi generasi muda bertajuk Digital Lounge (DiLo). Secara kumulatif, fasilitas yang bisa dimanfaatkan gratis ini tersedia di berbagai kota di Indonesia sebanyak 20 lokasi pada 12 kota di Indonesia dengan anggota komunitas sedikitnya 10.447 member.

Anggota Digital Valley, kata dia, sendiri tak kalah signifikan. Misalnya, di Bandung Digital Valley sedikitnya ada 3.421 member, Jogya Digital Valley 4.122 member, serta Jakarta Digital Valley 1.179 member. "Kami di Indigo.id juga berikan kesempatan magang bagi mahasiswa dengan durasi enam bulan hingga 1 tahun," ujar Ery dalam keterangan pers, Jumat (17/11).

Tak ketinggalan, kata dia, kerja sama intensif dengan Telkom University menyelenggarakan seminar dan eksibisi teknologi yang memaparkan teknologi dan hasil riset mutakhir. Melalui sesi diskusi utama berjudul Bridging The Gap between Industry and Academy, Ery juga memaparkan kiprah Indigo.id terhadap bangsa Indonesia secara umumnya. Yakni inkubasi, akselerasi, sekaligus menaungi digital startup di tanah air.

"Termasuk memberikan pendanaan kepada digital startup, karena kami melihat mereka bukan sekedar mitra, namun juga inovasi bisnis yang inspiratif," katanya.

Selain itu, kata dia, untuk mendigitalisasi Indonesia, jelas perlu kolaborasi antara perusahaan, startup, perguruan tinggi, komunitas, hingga media massa.

Pembicara lainnya, Dr Nor Azmi Alias yakni Senior Vice President of Research CREST (Collaborative Research in Engineering, Science, and Technology) mengatakan, kesenjangan industri dan akademik harus disatukan dengan kolaborasi antara industri, akademis, dan pemerintahan. CREST, kata dia, antara lain fokus dalam penelitian pengembangan, pengembangan sumber daya manusia, serta komersialisasi hasil riset. Lewat kolaborasi tersebut, maka pengembangan manufaktur perangkat elektronik cerdas bisa terus dilakukan.

Diskusi juga membahas cara lain mengelaborasi kampus dengan bisnis, yang secara natural keduanya berbeda orientasi. Kampus mengarah pada penemuan riset dan ilmu sementara bisnis menekankan pengembalian modal dari sebuah layanan komersial.

IEEE, kepanjangan Institute of Electrical and Electronics Engineers, adalah organisasi internasional terkemuka beranggotakan akademisi dan insinyur bidang elektronika yang beranggotakan lebih dari 4000.000 member dari sekitar 150 negara. Dalam acara tersebuy, sedikitnya ada 579 presented paper dari peserta konferensi yang kala itu dihadiri Vincenzo Piuri (IEEE fellow and 2018 President Elect Candidate), Chuah Hein Teik (IEEE Fellow and UTAR President), dan Kukjin Chun (IEEE Region 10 Director).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement