Kamis 26 Oct 2017 12:40 WIB

IHSG Tembus 6.000, BEI: Ini karena Faktor Rupiah dan Inflasi

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya
Layar indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta. ilustrasi
Foto: Republika/Yasin Habibi
Layar indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, kepercayaan investor domestik terhadap perekonomian Indonesia dan pasar modal dalam negeri cukup tinggi. Hal itu ditunjukkan lewat penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menembus 6.000.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio menilai, stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 13.570 per dolar AS berdasarkan kurs tengan Bank Indonesia (BI) per kemarin ikut berkontribusi terhadap meningkatnya kepercayaan investor domestik terhadap perekonomian khususnya pasar modal. Apalagi, laju inflasi pun terjaga di bawah empat persen per September 2017.

Lebih lanjut menurutnya, kinerja perusahaan yang tercatat positif di kuartal ketiga turut menjadi salah satu faktor penguatan IHSG. Di sisi lain, Tito menyoroti aktivitas transaksi investor asing yang terus mencatatkan jual bersih di sepanjang 2017, yakni secara year to date mencapai Rp 17,88 triliun. 

"Aksi jual bersih yang dilakukan oleh investor asing justru diimbangi dengan aksi beli yang dilakukan oleh investor domestik. Dengan begitu komposisi kepemilikan investor domestik atas saham-saham perusahaan yang tercatat di pasar modal terus meningkat," tutur Tito melalui keterangan resmi yang diterima Republika, Kamis, (26/10).

BEI mencatat, sepanjang tahun ini, investor domestik sudah menguasai 64 persen atau Rp 899 triliun nilai transaksi di BEI. Sedangkan investor asing hanya 36 persen atau Rp 514 triliun. 

"Ke depan, BEI optimis jika terus mengembangkan literasi pasar modal khususnya kepada investor ritel maka pasar modal Indonesia akan semakin kuat," tegas Tito. 

Sebagai informasi, tidak hanya IHSG menembus 6.000, nilai kapitalisasi pasar BEI kemarin juga menembus rekor tertingginya sepanjang masa yakni di level Rp 6.666 triliun.  Dengan nilai transaksi tercatat sebesar Rp 8,69 triliun serta volume transaksi kemarin sebesar 9,15 miliar unit saham dan frekuensi perdagangan 349,79 ribu kali transaksi. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement