Selasa 03 Oct 2017 06:33 WIB

Ini 8 Pilar Bisnis Adaro Menjawab Tantangan Masa Depan

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Elba Damhuri
Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir saat di wawancarai Republika, Jakarta, Senin (2/10).
Foto: Republika/Prayogi
Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir saat di wawancarai Republika, Jakarta, Senin (2/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berdiri selama 25 tahun bukan sesuatu yang mudah yang harus dihadapi oleh perusahaan batubara PT Adaro Energy Tbk. Melakukan ekspansi bisnis, perubahan, dan pengembangan investasi dilakukan untuk menjawab tantangan masa depan.

Direktur Utama Adaro, Gharibaldi Thohir, mengatakan untuk bisa terus bertahan di dunia bisnis, maka ekspansi harus terus dilakukan. Adaro, jelas pria yang biasa disapa Boy ini, yang semula hanya berpegang pada bisnis inti tambang batubara, kini melakukan ekspansi ke sektor lain dengan membangun delapan pilar ekspansi bisnis.

Pilar-pilar tersebut diakui Boy menjadi salah satu modal bagi Adaro untuk bisa bertahan dan terus berjalan di tengah kondisi ekonomi global. Tak hanya mengembangkan bisnis pertambangan, beberapa lompatan dalam bidang lain seperti pengolahan biji batubara dan listrik serta akses air bersih dijajal Adaro.

"Kita gak boleh stop. Kita diversifikasikan. Betul kita berkompeten dalam bisnis batubara, tapi kompetensi itu kan bisa dikembangkan di sektor lain, yang direct ataupun indirectly," ujar Boy saat ditemui Republika di Hotel Mulia Senayan, Senin (2/10) malam.

Boy menjelaskan delapan pilar tersebut terdiri dari Adaro sebagai perusahaan batubara, Adaro Power Plant, Adaro Services, Adaro Logistik, dan Adaro Kapital. Baru baru ini, lanjut Boy, Adaro mengembangkan Adaro Medcoal dan Adaro Water yang menggenapi delapan pilar bisnis perseroan.

Dua anak usaha yang dibesut pada tahun lalu ini memang menjadi hal yang baru di dunia Adaro. Boy menjelaskan untuk Adaro Medcoal sendiri merupakan industri pengolahan yang mengolah batubara kelas atas dengan standar cooking coal.

Batubara jenis ini banyak dipakai oleh industri baja. Cooking coal produksi Adaro berfungsi sebagai salah satu komponen pembuat Baja.

Boy mengakui Adaro Medcoal memang lompatan baru bagi Adaro. Bermodal belajar dari salah satu perusahaan produsen cooking coal, BHP, Adaro membangun Medcoal dengan melihat peluang masih bergantungnya industri baja dalam negeri terhadap impor.

Sebagai negara berkembang --apalagi Indonesia ingin maju dalam bidang industri-- Boy menilai Indonesia perlu memproduksi material dalam negeri sehingga tak melulu bergantung pada impor. "Misalnya KS (Krakatau Steel) kan 90 persen impor. Cooking coal-nya dari saya. Visi kan mesti ke sana," ujar Boy.

Kedua, Adaro Water. Boy menjelaskan Adaro sebagai perusahaan energi terintegrasi, bergerak di bidang usaha yang vital bagi kehidupan manusia. Selain listrik, saat ini Adaro juga merambah ke bidang usaha vital lainnya yaitu air.

Melalui PT Adaro Tirta Mandiri (ATM), Adaro berkomitmen untuk ikut serta dalam proyek strategis nasional di seluruh Indonesia. Diharapkan, proyek ini dapat mencapai target 4.000 liter per detik dalam lima tahun ke depan.

Saat ini dua proyek BOT (build, operate, and transfer) sudah dikelola ATM sejak 2016, yaitu BOT Pengolahan Air dengan PDAM Gresik dengan kapasitas 400 liter/detik dan BOT dengan PDAM Intan Banjar di Banjarbaru dengan kapasitas 500 liter/detik.

ATM sudah mulai ikut serta mengikuti tender-tender proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang lebih besar; salah satunya adalah tender proyek SPAM di Bandar Lampung (membentuk konsorsium dengan Adhi Karya dan Suez) dengan nilai investasi sekitar Rp 700 miliar sampai Rp 800 miliar. Juga, beberapa proyek-proyek dengan PDAM-PDAM lainnya di Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Tak berhenti sampai di situ, Boy menjelaskan, ke depan Adaro hendak mengembangkan Adaro Land. Ini merupakan ekspansi bisnis Adaro untuk memanfaatkan lahan tambang yang sudah tidak terpakai. Lahan kosong seluas 35 ribu hektare, dinilai Boy, perlu dimanfaatkan sehingga bisa menambah efek berantai bagi negara.

Saat ini ada perternakan yang dikembangkan Adaro di bawah Adaro Land. "Mimpi besar saya suatu saat nanti, bisa besar dan bisa menjadi satu kawasan. Ada permukiman, pariwisata, pendidikan, pertanian, dan kesehatan," tambah Boy.

Selain ketiga bisnis baru tersebut, Boy menjelaskan entitas bisnis yang saat ini sudah berjalan juga masih menjadi perhatian khusus. Adaro optimistis ke depan tingkat permintaan batubara akan signifikan bukan cuma di Indonesia, tapi juga di Asia Tenggara, yang didorong investasi besar di bidang infrastruktur energi (terutama di sektor listrik).

Adaro mengaku tetap waspada karena dinamika pasar industri batubara yang fluktuatif di mana tidak bisa memprediksi harga batubara. Yang dapat Adaro lakukan adalah terus menjalankan keunggulan operasional di seluruh mata rantai bisnis sehingga bisa menghasilkan kinerja operasional yang solid.

Sedangkan dalam bidang Pembangkit Listrik, Progres pembangunan PLTU Batang Jateng saat ini telah mencapai 25-30 persen. Sementara pembangunan PLTU Tanjung Kalsel mencapai 59 persen.

"Begitu juga Adaro capital, kalau ada dana dana yang bisa kita sisihkan, mana lagi yang bisa kita investasi, Kita terbuka, kita diservifikasikan," kata Boy.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement